Lelaki itu hanya biasa biasa saja. Perawakannya cenderung kurus, tinggi sedang seperti kebayakan lelaki Iain, bicaranya santai tidak meledak ledak, lebih sering diam menyimak mendengarkan daripada memdominasi pembicaraan, dan yang terakhir tatapan matanya subhanallah teduh menenangkan jiwa.
Lelaki itu tidak pernah menggombal, mengucapkan kata kata sayang tanpa makna, dan ini sering di protes, kenapa tidak seromantis suami si anu suami si itu yang selalu memanggil istrinya dengan panggilan sayang, lelaki itu juga tidak membiasakan mengumbar kemesraan didepan orang banyak. Sikapnya dan bahasa tubuhnya biasa biasa saja. Semua biasa bahkan terkesan tidak romantis.
Lelaki yang biasa biasa itu juga tidak selalu setiap saat menelpon istrinya mengabarkan segala sesuatu melalui telepon, sms, bbm, WA atau apalah namanya bertukar kabar dimedia sosial. Tidak pernah memajang foto mesra mereka di media sosial apapun itu.
Tapi lelaki yang biasa biasa itu yang mendampingi istrinya belasan tahun dengan cinta yang sangat luar biasa!, walaupun bagi sebahagian orang yang melihat sampai sekarang lelaki itu tetap biasa biasa saja. Dia tidak berbicara meledak ledak tidak mendominasi pembicaraan tapi dia tahu saat yang tepat kapan harus bicara kapan harus diam. Dalam diamnya ada terselip rasa sayang yang besar, dalam diamnya ada tersirat perhatian yang lebih.
Lelaki biasa biasa tadi tidak bisa mengumbar kemesraan didepan banyak orang, tidak punya panggilan kesayangan, tapi yakinlah rasa sayang dan cintanya melebihi rasa sayang yang hanya diucapkan verbal. Dia merawat isteri dan anak anaknya dengan kasih sayang ketika sakit, dia rela menukar semua jam tidurnya untuk berjaga di rumah sakit, dia selalu memastikan istri dan anak anak mendapat pelayanan kesehatan terbaik walaupun untuk itu dia bekerja lebih keras untuk memenuhi semuanya. Dia yang selalu menyelimuti anak anak dengan rasa sayang, yang rela mengejar nyamuk yang menggigit anaknya karena tidak rela setetes pun darah anaknya dihisap nyamuk, yang rela berkorban apapun itu demi anak dan istrinya sekalipun nyawa taruhannya. Tapi dia tetap melakukan dengan diam tanpa atraktif, tanpa mengumbar kata kata sayang, tapi perbuatan dan cinta kasihnya menyentuh di hati. Kasih sayangnya seluas samudera. Cintanya tak terbatas tanpa pamrih hanya bisa dirasakan tak terkatakan.
Dia yang selalu mengikuti secara diam diam istrinya dengan motor ketika diawal awal istrinya membawa mobil. Dia diam, dia tidak show on, tetapi diam2 dia menjaga istrinya memastikan istrinya selamat sampai di kantor, menjaganya dari jauh, mengikuti mobil istrinya secara diam diam, dan itu tidak diketahui baru diketahui setelah satpam kantor bercerita bahwa bapak selalu mengikuti ibu dan pulang setelah ibu memarkir mobil dengan rapi. Subhanallah cinta yang mengamati dalam diam ternyata lebih bermakna dari segudang panggilan sayang.
Lelaki yang tidak pernah memajang foto mesra mereka tetapi di dompetnya terselip foto kami sekeluarga ketika anak anak masih kecil yang sudah lusuh tersimpan belasan tahun di dompet. Dan dia selalu berujar tidak perlu memajang foto atau apapun namanya yang terpenting semua tersimpan di hati. Apalah gunanya dipamerkan tapi tidak tersimpan di hati.
Lelaki yang biasa biasa saja itu, yang selalu membantu kerepotan istrinya, yang selalu menjadi solusi kesulitan anak anaknya, yang selalu menenangkan, yang selalu siap mendengarkan kecerewatan bahkan kenyinyiran istrinya. Yang selalu tersenyum menggoda ketika cerita yang sama diulang berkali kali sementara sang istri tidak menyadari bahwa cerita itu sudah kali yang kelima diceritakan dan ketika ketahuan dia tertawa dan bilang terus aja cerita belum yang ke enam kali lagi hahaha...
Lelaki yang biasa biasa itu ternyata menyimpan cinta yang luar biasa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar