Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 09 Oktober 2016

Kamu tau? Ini sangat berat bagiku. Aku tak bisa berfikir apa-apa lagi. Aku tertegun terdiam, apa ini? Sesuatu yang selama ini kamu dan aku khawatirkan terjadi. Aku hanya memandang keluar jendela. Deretan gedung-gedung angkuh seakan menertawai kebodohan kita. Angin seakan malas berhembus hanya berdesis lembut ketika kamu kembali memandangku.
"Apa yang harus kita lakukan?, kembali pertanyaan itu kamu ajukan. Dan kembali otak dan fikiranku seakan berhenti berputar. Aku menggeleng tidak ku peroleh jawaban. Otakku seakan berhenti berkerja. Ya apa yang harus aku lakukan? Setelah sekian lama pertanyaan itu selalu mengusik hati dan perasaanku. Hanya itu. Ternyata hanya kamu yang selalu mengusik hatiku. Perasaanku. Aku rindu pertemuan ini sekaligus aku benci ketika kita harus berpisah di bandara ini dan ini selalu berulang lagi dan berakhir dengan pertanyaan "apa yang harus kita lakukan?"
Aku menggeleng lemah, tidak tahu harus menjawab apa, untuk kemudian seperti biasa akan aku jawab lirih
"Biarlah waktu yang akan menjawabnya."
Kupandangi wajahmu dari sudut mataku. Perlahan aku melihat kerutan halus disudut matamu walaupun itu tidak mengurangi kecantikanmu. Ya kita semakin menua dengan segala kompleksitas masalah kita. Apakah kita akan bisa bertahan? Sampai kapan kita bertahan? Kita mampu ketika waktu pun rasanya menyusutkan diri terseok menghadapi takdir kita
"Aku selalu takut dan tidak suka mendengar jawabanmu seperti itu. Kita jalani saja dulu? Sampai kapan? Sampai kapan aku harus selalu merelakan kamu pergi, meninggalkan aku lagi dan lagi? Apa sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi?" Lelah suaramu meletupkan perasaan hatimu yang mungkin sudah berkurang kadar kesabarannya.
"Terus kita bisa apa?, apa yang bisa kita lakukan? Aku rasa sebaiknya kita memang tidak usah bertemu, bahkan pertemuan kita dulu yang mengawali hubungan ini. Aku juga capek, lelah menghadapi keadaan ini. Tapi kita bisa apa?" Suaramu lebih putus asa dari suaraku.
Kulirik pergelangan tanganku, jam selalu berjalan, berdetak seakan tidak peduli kita terseok mengukutinya
"Waktuku hampir habis aku harus kembali ke keluargaku. Suami dan anak-anakku menungguku" katamu pahit sepahit aku yang menelan ludahku yang terasa menyekat di tenggorokan.
Yaa selalu begitu, pertemuan perpisahan, kegembiraan kesedihan silih berganti. Kejar mengejar. Ya Tuhan ampunilah aku, demi mendengar kamu mengucapkan suami dan anak-anakku menungguku aku merasa tertampar, aku merasa kembali kepada kenyataan pahit bahwa kamu memang bukan milikku. Ada yang lebih berhak atas diri dan perasaan kamu. Suami dan anak- anakmu. Trus dimana posisi aku di matamu? Ku hembuskan nafas sekuat-kuatnya berharap rasa sakit ini ikut terbawa pergi. Harga diriku merasa terusik. Ada yang lebih berhak atas dirimu dan perasaanmu. Aku dimanaaaaaa? Aku malu aku tertohok. Sekian lama perasaan ini merajai aku ternyata harus dihadapi lagi oleh kenyataan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About