Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 29 Oktober 2015

Tuhan... Izinkan Kali Ini Aku Menangis...

Tuhan... mungkin aku bukan orang yang kuat iman, izinkan kali ini aku menangis ketika aku dengan tangan bergetar menerima hasil Medical Check Up yang menunjukan USG Mammae ku positif ada benjolan yang tak lazim, izinkan aku menangis ketika tanpa sengaja pembicaraanku di dengar putra bungsuku dan kulihat dengan perlahan dia mengusap air matanya sambil berucap berobat ya bundaaaa...

Izinkan kali ini aku menangis ketika aku memberikan lembar lembar Medical Check Up kepada suamiku. Dia memelukku ya Allah memberi support moral bagiku tapi sekelabat kulihat dimatanya pandangannya yang sempat kosong dan helaan nafas panjang panjangnya yang berat.

Tuhan izinkan aku menangis, ketika sahabatku berulang kali menelponku dan sengaja tak kuangkat. Maafkan aku sahabatku tersayang, bukan maksudku menghindari kamu, tapi aku perlu menenangkan diri menguatkan batinku menerima kenyataan ini. Maafkan aku sahabat aku tidak sanggup nanti dihadapanmu aku menangis sedih

Tuhan izinkan aku menangis ketika aku sendiri, ketika malam malam panjang aku tidak bisa tidur, ketika aku tersungkur di sajadahmu ya Allah. Aku mengadukan hidupku, kenapa harus aku, kenapa harus ada pemeriksaan rutin, kenapa harus aku pilih pemeriksaan spesifik itu? Kenapa harus ada benjolan itu di tubuhku.

Tuhan izinkan kali ini aku menangis...

Selasa, 20 Oktober 2015

Entahlah...

Tidak tahukah kamu betapa kebosanan ini semakin menjeratku? Melewati hari demi hari tanpa tahu apa maknanya dan untuk apa kulakukan itu semua? Hanya menghitung detik demi detik berlalu untuk kemudian menyadari ternyata hari telah berganti. Aku bosan... aku rindu suasana dulu, suasana ketika waktu masih bisa kunikmati. Ketika waktu masih kurasakan denyut pesonanya. Tapi sekarang aku hanya menunggu.

Kenapa selalu kebosanan melingkupiku? Kenapa... apakah aku termasuk orang yang tidak bersyukur atas nikmat dan karuniaMu ya Rab. Aku rindu masa masa dulu, masa ketika aku berbaring di pangkuan ibuku. Dan ibuku tersayang akan mengusap rambutku. Kami bercerita tentang segala hal, kami bercerita tentang manisnya hidup untuk kemudian kami tertawa bersama. Kami bercerita pahitnya hidup untuk kemudian kami menangis bersama. Tahukah kamu aku rinduuuu saat saat seperti itu. Aku rindu tidur di pangkuanmu, aku rindu belaian tanganmu di kepalaku, aku rindu ingin mengadukan hari hari yang kujalani, aku ingin menceritakan hari hariku yang semakin membosankan.

Duhai kamu yang dulu sangat mengerti aku. Dapatkah kamu sisihkan sedikit waktumu untuk menemaniku. Menceritakan kisah manisku dan kita tertawa bersama, dapatkah kamu mendengarkan kisah sedihku untuk kemudian kita menangis bersama. Aku rindu kamu menghiburku. Mendengarkan segala keluh kesahku. Salahkah aku? Ketika kamu tidak kutemui lagi, ketika aku bukan lagi pengendali utama hati dan waktumu. Sampai kapan aku harus seperti ini, hanya menunggu waktu, menunggu kamu datang kembali menemaniku atau aku akan pergi meninggalkanmu.

Rabu, 07 Oktober 2015

#Masihmelawanasap

Sejak kabut asap menyerang kota kami, semakin terbiasa mendengar istilah jarak pandang, hujan buatan, masker, oksigen, pm 10, bahkan istilah ISPU yang dulu tidak diketahui.

Sejak kabut asap menyerang kota kami, semakin terbiasa perasaan ini diaduk aduk. Bisa saja pagi ini perasaan galau melihat kabut asap yang parah eeh tiba tiba siangnya sedikit terang walaupun sedikit sudah mrmbuat kami senang.

Sejak kabut asap menyerang kota kami, semakin banyak anak anak kami yang libur sekolah bareng bareng. Kasihan mereka harus diliburkan, atau dipulangkan cepat karena kabut asap yang semakin menggila.

Sejak kabut asap menyerang kota kami, semakin banyak anak anak balita yang di nebulizer itupun bagi orang tuanya yg berduit.

Sejak kabut asap menyerang kota kami banyak hal hal indah yang kami alami dulu, yang hilang terampas...

 

Blogger news

Blogroll

About