Menunggu jadwal terbang lagi ke Palembang. Ada jeda waktu yang cukup lama. Udara Jakarta yang gerah serta banyaknya pengunjung Bandara baik yang pergi dan mengantar membuat suasana semakin gerah dan panas. Matahari bersinar dengan jumawanya, angin terasa malas berhembus, udara terasa semakin menyesakan, panas yang terik. Tepat berlalu didepanku rombongan umroh dengan peserta yang rata rata masih muda bersileweran dengan baju seragam batiknya. Trend yang baik semua orang bisa ke tanah suci dengan melakukan perjalanan umroh, karena kalau menunggu ibadah haji bisa dipastikan antriannya sangat lama dan bahkan bisa belasan tahun menunggu dapat jatah kuota, perjalanan umroh secara tidak langsung juga membuat Bandara menjadi ramai karena banyaknya rombongan yang mau berangkat. Kulirik jam tangankun sudah waktunya makan siang dan perut yang terasa lapar memaksa aku untuk masuk ke restoran cepat saji ini, lumayan mengisi perut sambil mendinginkan badan. Aku mengedarkan pandangan berkeliling restoran itu. Restoran yang selalu penuh. Di pojok sana sepasang kekasih saling berpandangan memandang dengan penuh rasa cinta, berbicara dengan bahasa tubuh yang sangat mudah dimengerti, sesekali mereka melempar senyum, sepertinya mereka tidak banyak mengumbar kata, karena saat- saat perpisahan berkata-kata mungkin tidak akan sanggup dan tidak penting, pandangan dan bahasa tubuh sudah mewakili itu semua, tangan mereka seolah ada lemnya lengket terus. Tatapan matanya memandang kekasihnya seolah olah hanya mereka berdua yang ada disini. Dan aku yakin didalam hati mereka berharap supaya waktu berhenti berputar agar mereka bisa menikmati kebersamaan yang lebih lama dan berharap mereka tidak akan berpisah. Harapan yang sia-sia...
Di meja tengah yang mejanya digabung berkumpul anak-anak muda yang kalau dilihat dari pakaian dan penampilannya mereka berasal dari keluarga berada. Senyum tawa riang mereka mendominasi restoran ini. Yang perempuan terlihat cantik-cantik dengan dandanan modis yang enak saja rasanya di pandang. Yang lelakinya berpostur tinggi, badan yang terawat dengan olahraga dan sepertinya rutin ngegym. Melihat mereka tertawa lepas bercanda rasanya seumuran mereka dunia memang terasa indah. Mereka belum memikirkan kesulitan hidup, mereka tidak tahu bagaimana susahnya orang tua mencari duit, bagi mereka dunia mereka adalah hura-hura bebas tertawa lepas. Masa remaja yang indah. Didekat pintu masuk ada sepasang suami istri yang usianya paruh baya menikmati makanannya. Mereka tenang menyuap tidak tergesa-gesa. Sesekali sang Bapak menyeka mulut istrinya dengan tissue. Aku yakin mereka sudah sampai pada tahap menikmati hidup, mereka sudah melalui berbagai cobaan kehidupan dalam berumah tangga. Sekarang mereka menikmati buah dari kesabaran dan keikhlasannya menjalani kehidupan. Aku rasa mereka berencana mengunjungi anak mereka yang baru saja melahirkan memberikan mereka cucu. Hm... aku menikmati mengamati ini semua. Pesanan makananku akhirnya datang juga setelah berdesakan di kasir dan dikasih tanda bahwa makanan nanti akan diantar. Aku melirik jam tanganku, masih punya waktu sekitar 2 jam sebelum boarding. Aku nikmati makan siangku dengan lambat, sebenarnya kalau tidak terpaksa aku tidak akan pernah mau makan di restoran siap saji ini, tapi karena keadaan maka jadilah aku berada dan menikmati makan siangku disini. Tiba- tiba pandanganku melihat pasangan muda persis disamping mejaku menyuapi anaknya. Pertama masih dengan nada lembut membujuk. Tapi si anak tetap tak mau makan. Kemudian masih dibujuk-bujuk dirayu-rayu sambil bermain-main, bahkan bapak si anak sampai berputar putar mengelilingi anaknya menggoda biar mau makan. Si anak tetap tak mau makan !. Kemudian tibalah adegan yang membuat aku miris dan hampir menyelesaikan makan siangku akibat tidak tega melihat orang tua memaksa anaknya makan. Ya Allah... kasihan banget anaknya. Sudah mengeleng-geleng sambil menangis masih juga dipaksa disuapin sama orang tuanya. Si Anak sampai menangis meronta-ronta si orang tua terus saja memaksa. Air mata bercucuran di pipi sang anak bercampur dengan ingus yang tidak tertahan, sungguh pemandangan yang mengharukan, sementara sang ibu dengan lantang berteriak makaaann! sambil tanganya mencekal mulut sang anak mencekoki makanan. Kasihan sekali, siapapun yang melihat jadi terenyuh melihat anak kecil itu termasuk aku. Ingin rasanya bilang sama orang tuanya tidak usah dipaksa tapi nanti mereka tersinggung pula. Akibat pemaksaan itu makanan yang ada di mulut sang anak keluar semua disertai muntah dan batuk-batuk. Huekkss sang anak muntah mengotori baju sang Ibu, mengotori bajunya juga, mengotori lantai restoran siap saji itu. Emosi ibu kian tersulut, kemarahan tampak nyata dimatanya. Sang ayah menyabarkan si ibu, mungkin karena kasihan lihat anaknya atau karena malu karena semua mata pengunjung restoran ini tertuju kepada mereka. Si Ayah mengambil alih anaknya, menggendong, membujuk anaknya yang menangis keras akibat bentakan sang Ibu. Aku lihat terus si Anak kepayahan menangis tersedu sedan. Nafasnya kelihatan sesak, si ayah sibuk menenangkan, dan ibu anak kecil itu juga bergegas meninggalkan restoran diiringi tatapan mata kami pengunjung restoran lainnya.
Tiba-tiba aku teringat Puan anak gadis kecilku yang seumuran dengan anak tadi. Rasanya aku tidak pernah membuat acara makan anakku menjadi berantakan seperti pasangan muda tadi. Membuat acara makan yang seharusnya menyenangkan menjadi ajang tangisan. Tidak ada paksaan, tidak ada ancaman dan tidak ada bentakan. Karena apalah arti makanan yang masuk kedalam mulutnya dibandingkan dengan luka hati yang tergores di hati malaikat kecil itu. Apalah arti suapan demi suapan tetapi mereka merasa terpaksa menelan makanan dengan linangan air mata. Seharusnya mereka bahagia, menikmati masa kecilnya. Ah... Puan mengingatmu Bunda jadi kepingin pulang rasanya ingin membatalkan penerbangan selanjutnya ke Palembang ini.
Kamis, 24 Desember 2015
Soeta di Suatu Siang
Pesona Sesaat
Hari ini aku merasa harus memikirkan lagi kelanjutan pernikahan aku dengan suamiku Pras. Pernikahan kami yang berumur 5 tahun semakin lama semakin membosankan dan membingungkan. Aku merasa harus ekstra lebih sabar lagi memahami suamiku.
Perkenalan kami berawal dari perjodohan yang dilakukan oleh seorang ustad. Aku masih sangat ingat detail pertemuan pertama aku dengan Prasetia. Aku yang ketika itu baru tamat SMA dan bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan percetakan bertemu pertama kali dengan Pras. Awal pertemuan bagiku biasa biasa saja. Karena begitu banyaknya karyawan lelaki di kantor tersebut dan semuanya berusaha merebut perhatianku. Hanya Pras seorang yang acuh tak acuh seperti tidak ingin mengenalku. Dibanding teman temannya yang lain Pras memang berbeda. Dia tampak amat sangat pendiam, bicaranya diirit, memandang antara acuh tak acuh yang kadang kala membuat penasaran. Wajahnya yang tenang bersahaja dan cenderung baby face pada waktu itu. Tapi ku akui kepada sosok laki laki acuh itulah hatiku terpikat. Dikemudian hari aku ketahui bahwa pada pandangan pertama Pras telah jatuh cinta padaku. Pras sesudah kami menjadi sepasang suami istri dapat dengan sangat tepat menjelaskan pertemuan pertama kami. Dia masih sangat ingat baju warna apa yang aku kenakan, motifnya apa, rok nya apa dan penampilanku seperti apa. Bahkan Pras sangat ingat kata kata pertama yang diucapkannya.
Pertemuan pertama kami tetap comblangi oleh teman Pras karena dengan karakter Pras seperti itu sangatlah sulit bagi dia untuk langsung dapat berkenalan dengan seorang wanita. Ketika itu aku merasa menjadi wanita yang sangat berbahagia. Bagaimana tidak, Pras yang memiliki wajah yang tampan dan sikap yang acuh tak acuh yang justru membuat perempuan penasaran justru memilih aku sebagai kekasih hatinya. Dan aku pun dengan sangat senang hati menerima limpahan perhatian dan kasih sayang Pras.
Setelah melewati berbagai rintangan selama menjalani proses pacaran yang lama akhirnya kami menikah. Aku ingat setiap aku lihat foto dan rekaman video pernikahan kami, di foto atau video itu ayahku selalu dengan erat memegang tanganku seolah tidak ingin melepaskanku. Menurutku ketika itu adalah hal yang biasa dimana seorang ayah akan sangat berat melepas puteri kesayangannya kepada lelaki pilihan hatinya. Tapi kemudian aku menyadari mungkin ini ada makna dan maksudnya dari genggaman erat tangan ayahku di acara pernikahan aku. Setelah aku ceritakan kasus pernikahanku ini.
Singkat kata masa masa awal pernikahan kami lewati dengan bahagia. Aku merasa pilihanku tidaklah salah. Pras adalah lelaki setia dan sangat bisa diharapkan. Dia sangat mengerti perasaanku yang dengan latar belakang keluarga yang berkecukupan butuh adaptasi untuk mengikuti kehidupannya yang pas pasan. Gaji Pras yang bekerja di percetakan sangatlah kecil tapi walaupun kecil tetap bisa menopang kehidupan rumah tangga kami. Aku kemudian memutuskan berhenti bekerja karena ingin fokus mengurus keluarga dan ingin berkonsentraai untuk memdapatkan momongan karena sudah hampir 5 tahun pernikahan kami berjalan sang buah hati belum juga hadir di kehidupan kami. Sesudah berhenti bekerja jadilah aku ibu rumah tangga murni yang kerjanya hanya mengurus rumah tangga dan hanya mengurus suami.
Tetapi seiring dengan berjalannya waktu semakin hari kehidupan perkawinan ini semakin membosankan bagiku dan mungkin juga bagi Pras. Kerjaku sehari hari hanya menyiapkan kebutuhan Pras, setiap pagi aku bangun, shalat subuh kemudian sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan buat suamiku. Dan menyiapkan segala keperluannya untuk berangkat ke kantor percetakannya. Sesudah Pras berangkat mulailah aku membereskan rumah. Yaa... rumah yang sangat kecil berapalah lama waktu yang dibutuhkan untuk membersihkannya. Kemudia setelah membereskan rumah aku mulai ke dapur memasak yang juga ala kadarnya cuma buat orang berdua aku dan suamiku. Kekosongan jeda yang lama terjadi menunggu suamiku pulang dari kantor. Aku bukan juga tipe istri yang suka bertandang (main) ke rumah tetangga. Paling banyak kuhabiskan waktuku untuk membaca menjelang menunggu kepulangan suamiku. Tapi entah kenapa hari itu aku berkunjung ke rumah tetanggaku. Dimana disana ibu ibu sering berkumpul dan sepertinya merumpi dan tertawa keras keras sesama mereka. Bu Ani yang sudah punya putra 3 orang memulai obrolan. "Tumben Raini bisa ngumpul sekarang?, biasanya di rumah saja", bu Ani memulai basa basi.
"Iya bu, bosan juga di rumah sendiri terus hehehe", jawabku sambil ber hehehe. "Iya Raini, sekali kali kita ibu2 ini harus ngumpul lho, cerita cerita, ketawa ketawa, kadang bosan juga lho terus terusan di rumah" balas bu Ani lagi.
" Oh iya Raini udh berapa tahun ya menikah, kenapa belum punya momongan?" Sekonyong sekonyong bu Risma yang rumahnya di pojok gang bertanya padaku. Deg..... terkadang inilah yang membuat aku malas berkumpul dengan ibu ibu komplek ini. Atau ibu ibu komunitas apapun, ataupun pertemuan apapun itu. Ketika point pertanyaaan berapa tahun menikah dan sudah punya anak berapa (untuk pertanyaan sopannya) atau kenapa gak punya anak? (untuk pertanyaan yang gak sopannya) selalu membuat aku salah tingkah mau menjawabnya. Karena itu akan menohok hatiku. Siapa sih yang tidak ingin punya anak setelah menikah? Tapi pertanyaaan ibu Risma ini harus aku jawab. "Sudah 5 tahun Bu, belum rezeki aja kali Bu", jawaban standart yang selalu aku siapkan di pertanyaan apapun itu dan di kesempatan apapun. Sambil tak lupa ku ulaskan sebuah senyum manisku, entah itu kelihatan masih manis atau sumbang aku sudah tak peduli.
"Sudah berobat kemana aja Raini?, siapa sih yang bermasalah", nyinyir bu Risma diikuti dengan tatapan haus gosip ibu ibu lain. Waduhhh Tuhan aku juga tidak ingin disalahkan, atau suamiku juga disalahkan. Tapi ini adalah takdir Allah dan kami sedang berusaha. "Gak ada yang salah bu, kami dua2 nya normal kok, kami sekarang sedang berusaha berobat, mohon doanya aja yaa ibu ibu", aku masih bisa mengontrol suara dan jawaban aku senormal mungkin.
"Iya lho Raini, sebaiknya kita punya anak penerus keturunan kita, pengikat batin kita kasih sayang suami kita lho, zama sekarang banyak lho kejadian kejadian yang aneh aneh. 5 suami suami yang bahkan sutdah punya anak selingkuh. Apalagi yang belum punya anak. Semakin banyak alasan para suami itu untuk berbuat yang macam macam, hati2 lho Raini, berobatlah yang serius semoga berhasil", bijak ibu yang satu lagi mengasih masukan walaupun tetap membuat dadaku berdesir. "Doakan aja bu", jawabku. "Ada lho Raini gak kita sangka tetangga kita juga yang ternyata sudah punya anak perempuan dari wanita lain yang sudah besar, sementara istrinya gak tau apa apa, bisa dibayangkan gimana shocknya istrinya setelah mengetahui suaminya yang selalu bilang ada proyek diluar kota ternyata pulang pulang sudah membawa anak", balas bu Ani lagi. Dan kemudian dibalas lagi oleh ibu ibu yang lain, ada yang suaminya ketahuan berselingkuh dengan teman sekantornya, ada yang genit dengan pembantulah dan lain lain. Setelah basa basi dan menyesali keputusanku kenapa juga harus melangkahkan kaki kesitu akhirnya aku pamit pulang. Aku merindukan bacaan bacaanku daripada mendengar percakapan ibu ibu komplek yang kurang kerjaan ini.
Tapi sampai di rumah bukannya membaca, aku malah termenung memikirkan kata kata ibu ibu komplek. Ternyata memang banyak hal yang tak terduga terjadi diantara kehidupan kita. Terkadang yang tidak kita sangka sangka ternyata itulah yang terjadi. Kembali ingatanku mengingat Prasetia suamiku. Yang menurut pengamatanku selama membina rumah tangga denganku sangat baik, tidak ada neko neko, setia, selalu membantu kesulitanku. Ah lelaki pendiam itu tetaplah laki laki yang terbaik buatku. Cuma satu selalu yang menjadi masalah kehadiran sibuah hati yang belum juga muncul di tengah perkawinan kami. Kami berdua sangat merindukan kehadiran seorang anak. Yaa beginilah hidup kadang kehidupan yang seperti ini yang membuat aku menjadi bosan. Lima tahun hanya berdoa dan melakukan rutinas itu ke itu saja memang kami berdua tapi kurasa tepatnya adalah aku yang merasa bosan sangat
Sore menjelang malam suamiku pulang. Aku seperti biasa menyambut kepulangan suamiku dan mulai mempersiapkan makan malam. Sesudah makan malam kami biasanya ngobrol ngobrol Prasetia menceritakan kegiatannya di kantor hari ini dan aku nanti akan menanggapi sambil sesekali bercerita juga. Tapi malam ini apa karena rasa bosan yang melingkupi batinku aku cepat beranjak masuk kamar meninggalkan suamiku yang menonton televisi. Kehidupan perkawinan macam apa ini? Batinku... sangat sangat membosankan. Seandainya ada seorang anak diantara kami? Ah sudahlah...
Entah kenapa malam itu tanganku tergerak untuk mengambil handphone suamiku. Kebiasaan yang selama ini jarang aku lakukan. Aku sangat jarang melihat dan memeriksa handphone suamiku. Begitu juga sebaliknya. Kami sangat menghargai privasi masing masing. Tapi malam ini tangan ini terulur untuk mengambil dan melihat chating bbmnya. Hanya sepintas lalu, tidak ada yang istimewa. Tapi ketika scroolnya bergerak turun aku temukan sebuah bbm yang menurutku menarik perhatianku. Karena ada tulisan "jangan lupa dihapus yaa" disudahi dengan emoticon smile. What? Ada apa ini? Cuma itu aja, berarti sebelumnya pasti ada chatting dan pasti suamiku sudah end chat. Dan mungkin ada lagi jangan lupa di hapus ya... dan ternyata suamiku lupa menghapusnya. Dadaku berdesir, Ya Allah apakah ini? Kenapa untuk chating yang satu ini seseorang tersebut minta dihapus percakapannya. Apa betul sih yang dipercakapkan sehingga sampai mengingatkan suamiku jangan lupa menghapus. Tanganku bergerak melihat profil picturenya. Cuma gambar pemandangan alam yang ada. Nama profilnya pun rekan kerja? Rekan kerja? Aku sendiri bertanya tanya, terbayang kembali percakapan ibu ibu komplek. Apakah suamiku sudah mulai bermain api? Apakah suamiku sudah mulai bosan jenuh denganku? Apakah suamiku juga merasakan keinginan menimang sibuah hati sepertiku? Ah sudahlah mungkin hanya orang iseng yang membuat aku jadi punya prasangka ke suamiku. Aku menyimpan pin bb rekan kerja itu. Siapa saat berguna batinku. Apakah perlu aku tanyakan sama suamiku yaa? Batinku lagi. Siapa sebenarnya rekan kerja tersebut. Tapi hatiku yang lain berkata tidak usah dulu, karena aku mengingat ingat kelakuan suamiku tak pernah berubah, tidak ada mencurigakan, tidak ada yang patut dirisaukan. Suamiku tetap seperti Prasetia yang dulu. Tetap pendiam bicaranya diirit irit. Tetap setia dan penuh kasih sayang, selalu membantu kerepotan kerepotan aku. Akhirnya hari berlalu tetapi ingatan chat dengan kata kata jangan lupa dihapus selalu mengisi kepalaku. Setiap ada kesempatan dengan mencuri curi lihat handphone suamiku. Tapi tetap tidak ada yang berarit. Bbm dgn rekan kerja tidak ada (atau apa sudah dihapus yaa), profil picture nya tetap sama, pemandangan alam, yang mana yaa orangnya... kembali terfikir olehku, jangan2 si rekan kerja ini seorang laki laki, sementara aku sudah suuzon pada suamiku)
Hari ini suamiku buru buru berangkat kerja ke kantor. Karena menonton bola semalaman jadinya terlambat bangun pagi. Saking terburu burunya suamiku gak sempat sarapan. Ya udahlah sambil beberes pagi ini aku mengurus rumah. Ketika akan mencuci baju tiba tiba di saku celananya aku temukan handphone suamiku. Untung ga kecuci. Sehabis pekerjaaan rumah tangga aku kembali terusik untuk membuka hp suamiku. Walaupun batin ini melarang tapi tangan ini sudah membuka. Sepertinya rasa penasaran kepada suamiku mengalahkan komitmen kami untuk menjaga privasi masing masing agar jangan pernah membuka hp pasangan. Boleh dilihat dibuka dibaca apabila sudah diizinkan atau dibaca bersama sama. Tapi ah... sudahlah lupakan komitmen, lupakan privasi rasa penasaran lebih dominan daripada itu semua. Pas pertama terlihat ada chatingan dari adik suami menanyakan kabar suami dan aku. Ga penting banget. Bbm dari teman kantor suami menanyakan pekerjaan, ga penting juga lewati. Tetapi tiba tiba tanganku terhenti ketika terbaca bbm dari rekan kerja deg... darah ini lgs berdesir, berarti ada chating yg intens antara suamiku dan rekan kerja. Tanganku bergerak cepat membuka isinya.... suamiku yang pertama menyapanya... "Asalamulaikum Hana... apa kabarmu hari ini semoga sehat yaaa", ...... ya Allah namanya Hana, ternyata nama kontak rekan kerja di bbm suamiku seorang wanita bernama Hana. Kenapa juga suamiku menyembunyikannya dengan merubah nama profil picturenya. "Waalaikum salam Pras, alhamdulillah aku sehat, kamu gimana?",. Dan dibalas lagi oleh suamiku. Tapi hanya basa basi permulaan percakapan. Sesuai yang kubaca hanya sapaan normal biasa biasa saja. Tanganku kembali bergerak membaca bbm selanjutnya. "Hana tahukah kamu, semenjak kita bertemu di acara reuni SMP itu aku terkejut melihatmu, aku sangat sangat bersyukur kepada Allah yang masih mempertemukan kita. Aku sangka aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan kamu Hana, aku masih ingat pada kamulah perasaan sayangku, cinta pertamaku terjadi. Aku masih ingat kamu selalu menoleh ke belakang memberi senyum manis meneduhkan sambil mengajarkan aku soal soal pelajaran yang aku tidak mengerti. Kalaulah waktu itu bisa diputar kembali aku ingin semua pelajaran itu tidak aku mengerti. Agar kamu selalu menoleh kebangku belakang agar aku bisa menikmati senyum manis yang meneduhkan dari kamu. Tapi itulah aku Hana, aku lelaki pengecut yang hanya bisa menyimpan perasaan dalam lubuk hatiku paling dalam. Aku hanya berharap dan bermimipi kamu dapat ku miliki. Kamu dengan segala kebaikan dan kelembutan kamu. Masa masa indah, dan itu sangat aku syukuri kita masih bisa ketemu, aku masih bisa bertemu cinta pertamaku, cinta masa kanak kanakku, walaupun mencintaimu dalam diam tapi setidaknya aku bisa mengatakannya sekarang, dan itu membuat hatiku lapang", chating panjang suamiku. Ya Allah aku merasa bumi seakan berhenti berputar ternyata suamiku yang kuanggap setia, tidak neko neko dan pendiam tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada wanita lain ternyata bisa dengan panjang lebar mengungkapkan perasaan kepada Hana si rekan kerja yang jadi cinta pertamanya. Aku kembali mengingat ingat kapan suamiku meminta izin untuk pergi reunian. Seingatku bulan Mei atau sekitar Juni suamiku pernah meminta izin untuk acara reuni SMP. Dan tidak disangka di acara itu dia ketemu cinta pertamanya yang tak pernah diucapkannya, yang dipendamnya belasan tahun. Mas Pras.... batinku menjerit teganya dikau mas...
Dengan lemah dan perasaan yang campur aduk aku lanjutkan membaca chating bbm mereka.
" Maaf Pras, sebenarnya aku bersyukur juga masih dipertemukan denganmu. Walaupun mohon maaf sekali lagi pada waktu pertemuan itu aku sama sekali tidak ingat siapa kamu. Walaupun dengan susah payah mengumpulkan ingatanku tentangmu, tapi tetap aku tidak ingat juga kamu. Kamu bilang kita sekelas, dan kamu duduk sibelakang bangkuku. Sungguh Pras sudah kucoba mengingat tetap juga ingatan tentang masa lalu itu tak ada" jawab bbm Hana
"Iya Hana ku akui aku memang tidak tenar, aku tidak aktif di OSIS seperti kamu, tidak supel seperti kamu, aku hanyalah lelaki pendiam yang memendam perasaan cinta pertama ku padamu.
Sofa buat Bunda
Bunda adalah wanita terhebat dalam hidupku. Bunda bagaikan malaikat yang dikirim dari langit untuk kami anak anaknya. Bunda adalah segala
Bunda punya keinginan minta dibelikan sofa ruang tamu rumah sama papa. Tapi keinginan Bunda tidak terkabul. Papa menyuruh Bunda bersabar, keperluan sekokah anak anak dan kebutuhan rumah tangga masih banyak yang harus di prioritaskan dibanding hanya satu set sofa.
Tapi Bunda tetaplah wanita biasa yang punya keinginan memiliki sofa di ruang tamu rumahnya. Sebagai gambaran rumah kami di ruang tamunya hanya menggelar karpet trus kemudian hanya ada satu meja bundar yang dulu dikenal dengan meja oshin dengan alas meja yang sudah agak pudar karena sering dicuci dan dimakan usia. Dari ruang tamu kita bisa melihat dengan sangat jelas ruang makan yang dilengkapi dua buah kursi makan. Dan sama sederhananya dengan meja oshin. Berbelok sedikit kekiri kita akan menemukan dapur yang juga sama sederhananya dengan ruang tamu dan ruang makan tadi. Piranti memasak tidak terlalu banyak di dapur kami.
Walaupun semuanya penuh kesederhanaan tapi secara keseluruhan rumah kami type 45 ini sangatlah menyenangkan bagi kami. Karena Bunda sebagai satu satunya perempuan di rumah kami sangat memperhatikan kebersihan dan keserasian rumah kami. Contoh kecilnya Bunda selalu menukar plastik alas meja makan walaupun alasnya hanya itu itu saja kata Bunda kalau plastik alas mejanya yang sudah kusam diganti minimal akan nampak bersih dan keliatan seperti baru lagi. Dengan segala keterbatasan Bundaa selalu berusaha membuat rumah kami indah dan nyaman.
Balik lagi ke cerita seperangkat sofa yang diidam idamkan Bunda. Pernah saking kepinginnya Bunda punya sofa di ruang tamunya, Bunda yang ketika itu ikut ibu ibu komplek pergi ke toko furniture sampai memoto seperangkat kursi sofa dan menyimpannya dengan wajah berbinar. Bunda berujar walaupun belum dapat memilikinya tapi Bunda sudah punya impian gambaran akan seperti apa sofa yang cocok untuk ruang tamu rumah kami yang mungil duhhhh Bunda.... dan sesekali foto itu akan dilihat Bunda untuk memuaskan rasa senangnya sambil membayangkan punya sofa baru dan itu sudah membuat Bunda tersenyum puas.
Sebenarnya keinginan memiliki sofa untuk ruang tamu hampir dimiliki Bunda. Ada tetangga yang menukar sofa ruang tamunya dengan model terbaru datang ke rumah menawarkan sofa bekas pakainya. Dan Bunda tergoda untuk membelinya karena harganya memang sangat murah dan rasanya terjangkau dengan keuangan keluarga kami. Tante tetangga yang menjual sofa kursi tamu itu pun berujar ini sebenarnya niatnya adalah memberi Bunda sofa ruang tamu karena Tante terangga itu melihat rumah kami yang sederhana dan terkesan lapang. Bunda juga udh bolak balik membawa meteran mengukur kira kira bisa atau tidak kursi sofa tetangga itu berpindah tempat ke ruang tamu rumah kami. Tapi apa daya ternyata kursi sofa tetangga itu besar ukurannya dan tidak muat di ruang tamu mungil kami. Aku melihat Bunda, wanita yang kusayangi itu hanya tersenyum pahit dan berkata mungkin nanti akan ada sofa yang lebih bagus dan bisa muat masuk ruang tamu rumah mungil kami. Sekali lagi keinginan Bunda untuk punya sofa terhapus.
Waktu berlalu sangat cepatnya. Tetapi harapan tetap tinggal harapan karena sofa idaman Bunda belum juga menghuni ruang tamu mungil kami. Sampai kemudian aku iseng pernah bertanya kenapa kita ga punya sofa atau kursi tamu seperti rumah rumah yang lain? Bunda menjawab diplomatis rumah kita kecil kalau dimasukan lagi kursi tamu pasti ruang tamu mungil kita akan sesak dan sempit. Begini aja dengan meja oshin kan bagus jawab Bunda lagi. Dan langsung aku bantah ruang tamu rumah temanku juga kecil bahkan lebih kecil dari ruang tamu rumah kita tapi dia punya kursi tamu Bunda, Bunda menjawab sambil tersenyum membelai kepalaku, lain waktu aja ya nak... kebutuhan kita masih banyak dan yang lebih penting adalah pendidikan kalian. Buat apa kita punya seperangkat sofa tapi kalau kalian sekolahnya ga benar. Ah Bundaa padahal sebagai wanita dalam lubuk hati Bunda yang paling dalam aku tahu Bunda sangat mengingikan sofa itu tapi Bunda bisa menahan keinginan Bunda demi kelancaran sekolah kami. Bunda cukup puas dan dengan mata berbinar sesekali memandang foto sofa impian Bunda.... duhh Bundaku