Menunggu jadwal terbang lagi ke Palembang. Ada jeda waktu yang cukup lama. Udara Jakarta yang gerah serta banyaknya pengunjung Bandara baik yang pergi dan mengantar membuat suasana semakin gerah dan panas. Matahari bersinar dengan jumawanya, angin terasa malas berhembus, udara terasa semakin menyesakan, panas yang terik. Tepat berlalu didepanku rombongan umroh dengan peserta yang rata rata masih muda bersileweran dengan baju seragam batiknya. Trend yang baik semua orang bisa ke tanah suci dengan melakukan perjalanan umroh, karena kalau menunggu ibadah haji bisa dipastikan antriannya sangat lama dan bahkan bisa belasan tahun menunggu dapat jatah kuota, perjalanan umroh secara tidak langsung juga membuat Bandara menjadi ramai karena banyaknya rombongan yang mau berangkat. Kulirik jam tangankun sudah waktunya makan siang dan perut yang terasa lapar memaksa aku untuk masuk ke restoran cepat saji ini, lumayan mengisi perut sambil mendinginkan badan. Aku mengedarkan pandangan berkeliling restoran itu. Restoran yang selalu penuh. Di pojok sana sepasang kekasih saling berpandangan memandang dengan penuh rasa cinta, berbicara dengan bahasa tubuh yang sangat mudah dimengerti, sesekali mereka melempar senyum, sepertinya mereka tidak banyak mengumbar kata, karena saat- saat perpisahan berkata-kata mungkin tidak akan sanggup dan tidak penting, pandangan dan bahasa tubuh sudah mewakili itu semua, tangan mereka seolah ada lemnya lengket terus. Tatapan matanya memandang kekasihnya seolah olah hanya mereka berdua yang ada disini. Dan aku yakin didalam hati mereka berharap supaya waktu berhenti berputar agar mereka bisa menikmati kebersamaan yang lebih lama dan berharap mereka tidak akan berpisah. Harapan yang sia-sia...
Di meja tengah yang mejanya digabung berkumpul anak-anak muda yang kalau dilihat dari pakaian dan penampilannya mereka berasal dari keluarga berada. Senyum tawa riang mereka mendominasi restoran ini. Yang perempuan terlihat cantik-cantik dengan dandanan modis yang enak saja rasanya di pandang. Yang lelakinya berpostur tinggi, badan yang terawat dengan olahraga dan sepertinya rutin ngegym. Melihat mereka tertawa lepas bercanda rasanya seumuran mereka dunia memang terasa indah. Mereka belum memikirkan kesulitan hidup, mereka tidak tahu bagaimana susahnya orang tua mencari duit, bagi mereka dunia mereka adalah hura-hura bebas tertawa lepas. Masa remaja yang indah. Didekat pintu masuk ada sepasang suami istri yang usianya paruh baya menikmati makanannya. Mereka tenang menyuap tidak tergesa-gesa. Sesekali sang Bapak menyeka mulut istrinya dengan tissue. Aku yakin mereka sudah sampai pada tahap menikmati hidup, mereka sudah melalui berbagai cobaan kehidupan dalam berumah tangga. Sekarang mereka menikmati buah dari kesabaran dan keikhlasannya menjalani kehidupan. Aku rasa mereka berencana mengunjungi anak mereka yang baru saja melahirkan memberikan mereka cucu. Hm... aku menikmati mengamati ini semua. Pesanan makananku akhirnya datang juga setelah berdesakan di kasir dan dikasih tanda bahwa makanan nanti akan diantar. Aku melirik jam tanganku, masih punya waktu sekitar 2 jam sebelum boarding. Aku nikmati makan siangku dengan lambat, sebenarnya kalau tidak terpaksa aku tidak akan pernah mau makan di restoran siap saji ini, tapi karena keadaan maka jadilah aku berada dan menikmati makan siangku disini. Tiba- tiba pandanganku melihat pasangan muda persis disamping mejaku menyuapi anaknya. Pertama masih dengan nada lembut membujuk. Tapi si anak tetap tak mau makan. Kemudian masih dibujuk-bujuk dirayu-rayu sambil bermain-main, bahkan bapak si anak sampai berputar putar mengelilingi anaknya menggoda biar mau makan. Si anak tetap tak mau makan !. Kemudian tibalah adegan yang membuat aku miris dan hampir menyelesaikan makan siangku akibat tidak tega melihat orang tua memaksa anaknya makan. Ya Allah... kasihan banget anaknya. Sudah mengeleng-geleng sambil menangis masih juga dipaksa disuapin sama orang tuanya. Si Anak sampai menangis meronta-ronta si orang tua terus saja memaksa. Air mata bercucuran di pipi sang anak bercampur dengan ingus yang tidak tertahan, sungguh pemandangan yang mengharukan, sementara sang ibu dengan lantang berteriak makaaann! sambil tanganya mencekal mulut sang anak mencekoki makanan. Kasihan sekali, siapapun yang melihat jadi terenyuh melihat anak kecil itu termasuk aku. Ingin rasanya bilang sama orang tuanya tidak usah dipaksa tapi nanti mereka tersinggung pula. Akibat pemaksaan itu makanan yang ada di mulut sang anak keluar semua disertai muntah dan batuk-batuk. Huekkss sang anak muntah mengotori baju sang Ibu, mengotori bajunya juga, mengotori lantai restoran siap saji itu. Emosi ibu kian tersulut, kemarahan tampak nyata dimatanya. Sang ayah menyabarkan si ibu, mungkin karena kasihan lihat anaknya atau karena malu karena semua mata pengunjung restoran ini tertuju kepada mereka. Si Ayah mengambil alih anaknya, menggendong, membujuk anaknya yang menangis keras akibat bentakan sang Ibu. Aku lihat terus si Anak kepayahan menangis tersedu sedan. Nafasnya kelihatan sesak, si ayah sibuk menenangkan, dan ibu anak kecil itu juga bergegas meninggalkan restoran diiringi tatapan mata kami pengunjung restoran lainnya.
Tiba-tiba aku teringat Puan anak gadis kecilku yang seumuran dengan anak tadi. Rasanya aku tidak pernah membuat acara makan anakku menjadi berantakan seperti pasangan muda tadi. Membuat acara makan yang seharusnya menyenangkan menjadi ajang tangisan. Tidak ada paksaan, tidak ada ancaman dan tidak ada bentakan. Karena apalah arti makanan yang masuk kedalam mulutnya dibandingkan dengan luka hati yang tergores di hati malaikat kecil itu. Apalah arti suapan demi suapan tetapi mereka merasa terpaksa menelan makanan dengan linangan air mata. Seharusnya mereka bahagia, menikmati masa kecilnya. Ah... Puan mengingatmu Bunda jadi kepingin pulang rasanya ingin membatalkan penerbangan selanjutnya ke Palembang ini.
Kamis, 24 Desember 2015
Soeta di Suatu Siang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar