Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 24 Desember 2015

Sofa buat Bunda

Bunda adalah wanita terhebat dalam hidupku. Bunda bagaikan malaikat yang dikirim dari langit untuk kami anak anaknya. Bunda adalah segala
Bunda punya keinginan minta dibelikan sofa ruang tamu rumah sama papa. Tapi keinginan Bunda tidak terkabul. Papa menyuruh Bunda bersabar, keperluan sekokah anak anak dan  kebutuhan rumah tangga masih banyak yang harus di prioritaskan dibanding hanya satu set sofa.

Tapi Bunda tetaplah wanita biasa yang punya keinginan memiliki sofa di ruang tamu rumahnya. Sebagai gambaran rumah kami di ruang tamunya hanya menggelar karpet trus kemudian hanya ada satu meja bundar yang dulu dikenal dengan meja oshin dengan alas meja yang sudah agak pudar karena sering dicuci dan dimakan usia. Dari ruang tamu kita bisa melihat dengan sangat jelas ruang makan yang dilengkapi dua buah kursi makan. Dan sama sederhananya dengan meja oshin. Berbelok sedikit kekiri kita akan menemukan dapur yang juga sama sederhananya dengan ruang tamu dan ruang makan tadi. Piranti memasak tidak terlalu banyak di dapur kami.

Walaupun semuanya penuh kesederhanaan tapi secara keseluruhan rumah kami type 45 ini sangatlah menyenangkan bagi kami. Karena Bunda sebagai satu satunya perempuan di rumah kami sangat memperhatikan kebersihan dan keserasian rumah kami. Contoh kecilnya Bunda selalu menukar plastik alas meja makan walaupun alasnya hanya itu itu saja kata Bunda kalau plastik alas mejanya yang sudah kusam diganti minimal akan nampak bersih dan keliatan seperti baru lagi. Dengan segala keterbatasan Bundaa selalu berusaha membuat rumah kami indah dan nyaman.

Balik lagi ke cerita seperangkat sofa yang diidam idamkan Bunda. Pernah saking kepinginnya Bunda punya sofa di ruang tamunya, Bunda yang ketika itu ikut ibu ibu komplek pergi ke toko furniture sampai memoto seperangkat kursi sofa dan menyimpannya dengan wajah berbinar. Bunda berujar walaupun belum dapat memilikinya tapi Bunda sudah punya impian gambaran akan seperti apa sofa yang cocok untuk ruang tamu rumah kami yang mungil duhhhh Bunda.... dan sesekali foto itu akan dilihat Bunda untuk memuaskan rasa senangnya sambil membayangkan punya sofa baru dan itu sudah membuat Bunda tersenyum puas.

Sebenarnya keinginan memiliki sofa untuk ruang tamu hampir dimiliki Bunda. Ada tetangga yang menukar sofa ruang tamunya dengan model terbaru datang ke rumah menawarkan sofa bekas pakainya. Dan Bunda tergoda untuk membelinya karena harganya memang sangat murah dan rasanya terjangkau dengan keuangan keluarga kami. Tante tetangga yang menjual sofa kursi tamu itu pun berujar ini sebenarnya niatnya adalah memberi Bunda sofa ruang tamu karena Tante terangga itu melihat rumah kami yang sederhana dan terkesan lapang. Bunda juga udh bolak balik membawa meteran mengukur kira kira bisa atau tidak kursi sofa tetangga itu berpindah tempat ke ruang tamu rumah kami. Tapi apa daya ternyata kursi sofa tetangga itu besar ukurannya dan tidak muat di ruang tamu mungil kami. Aku melihat Bunda, wanita yang kusayangi itu hanya tersenyum pahit dan berkata mungkin nanti akan ada sofa yang lebih bagus dan bisa muat masuk ruang tamu rumah mungil kami. Sekali lagi keinginan Bunda untuk punya sofa terhapus.

Waktu berlalu sangat cepatnya. Tetapi harapan tetap tinggal harapan karena sofa idaman Bunda belum juga menghuni ruang tamu mungil kami. Sampai kemudian aku iseng pernah bertanya kenapa kita ga punya sofa atau kursi tamu seperti rumah rumah yang lain? Bunda menjawab diplomatis rumah kita kecil kalau dimasukan lagi kursi tamu pasti ruang tamu mungil kita akan sesak dan sempit. Begini aja dengan meja oshin kan bagus jawab Bunda lagi. Dan langsung aku bantah ruang tamu rumah temanku juga kecil bahkan lebih kecil dari ruang tamu rumah kita tapi dia punya kursi tamu Bunda, Bunda menjawab sambil tersenyum membelai kepalaku, lain waktu aja ya nak... kebutuhan kita masih banyak dan yang lebih penting adalah pendidikan kalian. Buat apa kita punya seperangkat sofa tapi kalau kalian sekolahnya ga benar. Ah Bundaa padahal sebagai wanita dalam lubuk hati Bunda yang paling dalam aku tahu Bunda sangat mengingikan sofa itu tapi Bunda bisa menahan keinginan Bunda demi kelancaran sekolah kami. Bunda cukup puas dan dengan mata berbinar sesekali memandang foto sofa impian Bunda.... duhh Bundaku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About