Ara termenung memandang cincin di jarinya. Sambil menghela nafas panjang Ara bergumam lirih... Ya Allah tidak kusangka akan begini jadinya. Tak pernah terbayangkan ini semua terjadi menimpanya.
Terbayang kembali kenangan lama kala bertemu pertama kali dengan Radit. Radit yang baik, Radit yang perhatian dan Radit yang telah mencuri hatinya. Tidak mudah bagi seorang Ara untuk jatuh cinta. Tapi kenapa kepada Radit hatinya langsung terpaut dan ketika Radit menyatakan rasa sukanya Ara seolah tak punya kuasa buat menolaknya.
Jarum jam serasa lambat bergerak. Waktu seakan tidak beranjak. Ara kembali menghela nafas panjang. Ruangan kamar tidurnya yang luas terasa semakin sesak, dua ekor cicak berkejaran di dinding kamarnya tak henti-henti tidak mengenal lelah seolah tidak memahami apa yang bergejolak didalam hati Ara. Semua kembali terbayang bagai tivi layar datar besar yang terpampang didepannya dan dia tidak bisa memalingkan wajah walau sejenak. Semua kembali tersaji utuh.
"Hai Ara... apa kabar?, long time no see" seruan khas riang Rindu temannya menyapa ketika Ara baru menginjakan kaki di kampus.
"Hai Ndu... baik, iya nih aku lagi sibuk sekarang. Biasalah mencari sesuap nasi hehehe" kekeh Ara.
"Udah kenal belum ada anak baru di kelas kita?", tanya Rindu
"Anak baru yang mana?, perasaan gak ada deh"
"Makanya lu rajin-rajin datang ke kampus biar dapat info terkini"
"Yang mana sih anaknya? Cowok apa Cewek?"
"Cowok dong! Pokoknya keren kamu harus lihat dan kenalan sama ni cowok. Walaupun kata teman-teman sih agak 'halus' gitu" kata Rindu lagi membuat penasaran
Kayak apa sih orang keren yang agak 'halus' itu batin Ara menduga duga. Ah.. Rindu selalu punya trik supaya orang penasaran. Walaupun penasaran Ara berusaha memendam rasa penasarannya. Karena dia tahu semakin Rindu ditanya semakin kita dibuat penasaran olehnya. Memang beberapa hari ini Ara tidak masuk kuliah berhubung ada kesibukan keluarga di rumah. Biar sajalah nanti akan ketahuan juga seperti apa yang dimaksud Rindu. Ketika kuliah Statistik berlangsung tiba-tiba ditengah perkuliahan masuklah seorang mahasiswa yang sangat keren menurut Ara. Mukanya yang putih mulus, tinggi semampai, alisnya yang hampir bertaut, hidungnya yang mancung, perpaduan wajah yang sempurna didukung oleh sikap tubuh yang tegak. Jalannya yang lambat dan dengan rasa percaya diri yang tinggi mendatangi meja dosen
"Maaf Bu saya terlambat, karena tadi dijalan ada sedikit masalah" suaranya yang terkesan lembut meminta maaf ke dosen atas keterlambatannya.
"Ya sudah kamu duduk saja dulu, keterlambatan kamu ini, bagaimana pun sebenarnya menganggu kuliah saya" balas dosen yang terkenal killer. Tapi mungkin demi melihat keelokan rupa mahasiswanya ini sang dosen tidak berpanjang-panjang lagi dan melanjutkan kembali kuliahnya. Rindu cepat cepat menggeser duduknya berharap si cowok yang terlambat tadi menduduki bangku yang kosong di sebelahnya. Tapi apa dinyana ternyata sang cowok keren hanya berjalan melewati bangku Rindu langsung ke belakang tetap dengan gaya khasnya. Duduk tepat disamping Ara diiringi dengan wajah cemberut Rindu. Oh ternyata ini makhluk keren yang diceritakan Rindu itu, hmm boleh jugalah. Tapi untuk ukuran seorang cowok memang kelihatan lebih kalem lebih lembut, lebih sopan, dan lebih 'halus' sesuai versi bahasa Rindu. Radit yang kemudian disepanjang perkuliahan hanya menatap wajah Ara setelah perkenalan mereka, Radit yang lembut dan memperlakukan Ara dengan amat baik. Yang selalu hadir ketika Ara butuh, yang tidak pernah marah, tidak pernah berkata kasar, selalu berkata dengan lembut walaupun kadang kala kelembutan Radit membuat Ara bertanya apakah semua cowok seperti Radit?
Hingga akhirnya Ara yang selama ini terkenal sebagai gunung es di kampusnya bisa di 'lunakan' hatinya oleh Radit. Radit datang dengan segala pesonanya, dengan segala pengertiannya, dengan segala kelembutannya yang membuat Ara semakin tidak bisa menghindari pesonanya. Hingga di hati Radit, Ara berlabuh, Ara dan Radit semakin dekat, semua sikap Radit membuat Ara semakin mencintai Radit. Semakin menyayangi Radit. Waktu berjalan dengan cepatnya, semakin hari Ara semakin menyayangi Radit, hanya Radit yang bisa memahami Ara dengan segala kelembutannya. Maka ketika Radit menyatakan ingin melamar Ara dan mengadakan ikatan pertunangan dengan senang hati diterima Ara.
Jarum jam berdentang 12 kali, malam semakin larut dan Ara juga semakin larut dengan kenangannya. Tiba2 ada rasa sakit yang teramat sangat, terasa menghujam di hulu hatinya. Sedih sekaligus membuat berdenyut jantung yang tidak normal. Ara menikmati sakit ini sampai tidak ada lagi rasa sakit dihatinya. Semua hilang musnah bersama hilangnya Radit setelah acara pertunangan itu. Radit yang tidak bisa ditemui Ara di kampus, di kostnya di tempat biasa kumpul sama teman-temannya. Radit bak ditelan bumi dan itu membuat Ara merana, mempertanyakan semuanya tanpa dapat apa jawabnya. Pedih dan ngilu karena tidak bisa menemukan keberadaan Radit. Apakah ini takdirku, kemana engkau belahan jiwaku batin Ara nelangsa. Tapi akhirnya semua harus dan wajib diakhiri ketika dengan tidak sengaja Ara mendapat info dari sepupu Radit bagaimana masa lalu Radit. Radit yang dibilang Rindu sangat 'halus' untuk seorang cowok ternyata punya masa lalu yang siapapun pasti akan terkejut. Ternyata Radit dulunya seorang perempuan!!!, Haaaaaa?... dan yang lebih terkejut tentu Ara orang yang selama ini dekat dengan Radit. Berulangkali Ara menanyakan sama sepupu Radit dari mulai suara lemah sampai suara menyentak nyaring apa sebenarnya? Kenapa!
Ternyata Radit memang dilahirkan sebagai seorang wanita dengan nama aslinya Radita dan ketika anak anak sudah menyadari ada yang tidak normal di tubuhnya. Radit kecil lebih suka maia boneka daripada main bola. Radit kecil lebih kalem, lebih manis dan lebih halus daripada teman sabayanya. Ya Allah.... kelu dan tak bisa berkata kata Ara, mulutnya seakan tersumpal di kerongkongannya serasa ada segenggam pasir dan membuat sesak nafas Ara, perutnya mual, pingin muntah tapi tak ada yang mau di keluarkan. Pengakuan sepupu Radit betul- betul membuat perasaan Ara terluka. Bagaikan di sambar petir disiang bolong, wajah kelabu Ara dan linangan air mata tak dapat disembunyikan ketika sepupu Radit bercerita bahwa Radit pun sebenarnya merasa tersiksa merasa berdosa mengingat masa lalunya. Tapi masa lalu tetaplah masa lalu, sepahit apapun itu tidak akan bisa dihapus. Karena tidak bisa menghilangkan rasa bersalahnya kepada Ara sehingga Radit menghilang karena Radit tidak bisa menghadapi masa depan bersama Ara. Bayangan masa lalu selalu menghantuinya. Ahhhh...... sungguh rumit yang terjadi pada kisah asmara Ara dan Radit. Bagaimana mungkin... sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat. Sesuatu yang dulu pernah sesekali mengusik hati Ara tentang Radit ternyata terbukti sudah. Sesuatu yang selalu berusaha dibantahnya. Tapi takdir tetaplah takdir dia tidak berfikir apakah kita menerima atau tidak. Tiba tiba Ara merasa lelah yang teramat sangat. Pingin merebahkan diri melepaskan penat dibadan dan hatinya ternyata cuma hanya segini perjalanan cintanya berakhir tragis.
Kamis, 31 Maret 2016
Takdir getir
Jumat, 04 Maret 2016
Renjana terbelenggu
Kutanyakan lagi hatimu
Masihkah ada aku disana
Rindu seperti langit jingga
Kuluahkan cerita usang itu
Aku ingin mencintaimu
Tanpa suara tanpa gaduh
Aku ingin pekikan pada dunia
Aku mencintaimu
Derita terpendam dalam mimpi bisu
Cerita romansa hanya impian
Menemukan kamu dikeping keabadian
Tanpa sanggup bersuarakan cinta
Selasa, 01 Maret 2016
Berdamai Dengan Kenyataan (2)
Aku dan kamu bagaikan dua keping rindu yang tak pernah bertemu. Aku tahu kamu adalah muara kasih sayangku, curahan cintaku. Tapi aku dan kamu terhalang tembok yang tinggi untuk meluahkan rindu. Rindu tidak lagi menjadi penyejuk hati, rindu menjelma menjadi hal hal yang tak ku mengerti.
Aku dan kamu menyimpan keping rindu yang dalam disudut hati terdalam. Hingga tak satupun selain kita dapat menjenguknya. Kubenamkan keping rindu, berharap hilang tak bersisa. Tapi selalu ada dan kembali menyapa.