Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 28 Maret 2015

Sebuah Renungan

     Malam Minggu seperti biasa kami sekeluarga makan diluar. Senang rasanya bisa berkumpul dengan keluarga.
     Kami biasanya menghabiskan malam minggu dengan bercanda makan sambil ketawa ketawa. Ketika hendak memilih meja kami lebih memilih meja dibagian luar restoran karena sirkulasi udaranya lancar dan kami bisa menyaksikan kemeriahan jalan raya dari restoran.
      Sedang asik asiknya makan tiba tiba di seberang meja kami duduklah seorang kakek tua yang kurus dan sangat lemah. Beliau duduk di sebelah meja kami sambil menyeruput teh manis hangatnya yang masih mengepul. Saya yang orangnya termasuk tidak pernah bisa menyaksikan segala sesuatunya memanggil bapak tersebut untuk bergabung di meja kami. "Kenapa bunda?" anak saya yang kecil bertanya. "Gak apa apa nak, Bunda cuma pingin tahu aja apa yang dilakukan Bapak itu?."
      Kemudian saya ajak bapak tersebut bergabung dengan meja kami. Bapak itu terlihat malu malu dan canggung pindah bergabung ke meja kami. Dan seperti biasa dimulailah percakapan tersebut.
      "Kenapa Bapak masih berada di jalan raya sementara hari sudah larut malam, pak?", saya bertanya. "Tidak apa apa Nak, Bapak sudah terbiasa berada dijalanan larut malam begini karena Bapak petugas parkir yang shift nya malam."
"Lho bukannya Bapak sudah tua, dan udara malam tidak bagus buat kesehatan Bapak" aku masih nyinyir. "Dan seharusnya Bapak berada di rumah berkumpul sama anak dan cucu menikmati masa tua, bukan malah berada dijalan dan masih bekerja. Tubuh ringkih Bapak dan gerakan Bapak yang melambat merupakan tanda bahwa Bapak tidak layak lagi bekerja apalagi malam malam begini", lanjutku.
      Kulihat Bapak itu termenung dan terdiam menunduk. Seketika rasa iba menyelimuti hatiku. Terbayang almarhum ayah yang telah tiada 10 tahun yang lalu. Lalu dengan menghela nafas si Bapak menjawab pelan, "Nak, Bapak harus bekerja karena kalau Bapak tidak bekerja dengan apa Bapak harus makan, dengan apa Bapak harus membiayai semua kehidupan, bahkan Bapak masih harua membiayai kuliah cucu Bapak. Bapaklah yang membayar uang semester kuliah cucu Bapak" Subhanallah saya terenyuh. Bapak yang sudah setua ini dan seharusnya menikmati masa tuanya masih harus berkutat dengan kerasnya kehidupan, dengan dinginnya malam, masih mengatur parkir dengan suara yang lemah dan gemetar serta gerak langkahnya yang perlahan. "Bapak punya anak kan?" aku masih mencari celah. "Iya Nak, Bapak punya anak tapi anak Bapak semuanya 'anak batu lado' (bahasa Minang) yang hanya 'manandehkan' Bapak saja, mereka masih bergantung sama Bapak masih bergantung secara keuangan sama Bapak". Subhanallah teganya anak anak beliau masih memberdayakan orang tua mencari nafkah sementara sang orang tua sudah sangat tua dan  sangat sangat butuh istirahat. Menikmati masa tua tapi memang kadang hidup tak adil. Tulus saya berdoa semoga Bapak tua tersebut tabah menjalani hidupnya dan semoga anak anaknya mendapat hidayah menjadi sadar bahwa si Bapak tua seharusnya istirahat mendapati masa tua yang bahagia dan anak anaknyalah seharusnya yang mengambil tanggung jawab menjaga merawat menyenangkan bapaknya. Bukankah sang Bapak sedari mereka kecil selalu berjuang buat mereka.
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About