Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 29 Februari 2016

Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS)

Siang yang terik ketika aku harus menjemput bungsuku di Sekolah. Matahari bersinar sangat jumawa, memuntahkan sinar terbaiknya. Membuat siapapun yang berjalan disiang ini akan mengernyitkan kening, menyipitkan mata karena gerah dan silau akan panasnya. Angin seolah berhenti berhembus diam dan tidak bergerak menambah siang yang terik ini.
Dipanas terik inilah aku menjemput bungsuku, AC mobil ku setel menjadi yang paling tinggi. Sesampai di sekolah ternyata anakku belum pulang ada tambahan kegiatan Rohis. Iseng-iseng aku berjalan ke pekarangan sekolah. Biasanya aku cuma di mobil tapi kali ini aku berniat menunggu anakku pulang di pekarangan sekolahnya. Menjelang pekarangan di depan pagar sekolah sudah berjejer penjual makanan kaki lima. Masya Allah segala ada. Bau bakso bakar langsung menyengat hidungku ketika aku melintas. Aku perhatikan abang penjual bakso bakar itu. Penampilannya cukup bersih, dengan gerobak bakso yang juga bersih, tetapi apa yang dijualnya? Adakah jaminan bakso yang dijualnya tidak mengandung Boraks? Adakah yang menjamin saos yang digunakannya tidak mengandung pengawet yang melebihi batas keamanan yang diperbolehkan? Adakah yang menjamin MSG (Mono Sodium Glutamat) yang digunakan sudah sesuai takaran ataukah belum? Jangan- jangan mereka memasukan seenak perutnya sendiri, suka suka tanpa batasan yang penting semakin banyak penyedap semakin enak rasanya. Apakah saos, sambal yang digunakan abang abang penjual bakso ini sudah terdaftar di Badan POM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Badan yang mempunyai otoritas tentanf keamanan pangan, obat dan lain2?. Aku bergidik ngeri.

Sabtu, 20 Februari 2016

Surga Buat Dea

Pelataran rumah sakit masih sepi. Aku berjalan bergegas. Ruang penyakit dalam masih jauh didepan. Aku sangat ingin bertemu Dea pasien kecilku. Perkenalan pertamaku dengan Dea berlangsung dramatis.
Sebagai mahasiswa Profesi Apoteker yang sedang menjalani masa Praktek Kerja Profesi Apoteker di Rumah Sakit Umum Daerah aku ditugaskan oleh pembimbing untuk menganalisa obat obat apa yang diberikan kepada pasien. Kami para mahasiswa harus mencari efek samping, dosis, sinergis obat dan lain sebagainya berdasarkan Medical Record pasien. Dan kemudian mendiskusikan kasus pasien dengan Dokter dan para Apoteker di rumah sakit tersebut. Tentu semua berhubungan dengan obat obatan.
Ketika membaca medical record yang sering disebut status pasien aku tertarik dengan buku status pasien dengan nama Dea Veronika. Rasanya aku belum pernah melihat status pasien itu. Kubaca nama pasien Dea Veronika umur 10 tahun yang mana yaa pasiennya batinku. Ku telusuri riwayat masuk rumah sakitnya. Kubaca obat obat yang diberikan dokter. Kebanyakan obat-obat golongan steroid. Ada apa ini? Anak sekecil ini diberi obat steroid? Kubaca lagi anamnesanya, perlahan ku runut kejadiannya. Ya Allah benerkah anamnesa ini? Dimana anak ini sekarang berada? Karena penasaran waktu itu aku susuri semua ruang perawatan penyakit dalam. Ku lalui kamar rawatan demi kamar rawatan. Tapi tetap tidak aku temukan pasien anak bernama Dea. Sampai di ruangan paling ujung dengan berjinjit aku coba mengintip dari jendelanya. Sedang asik mengintip tiba- tiba aku ditegur oleh perawat.
"Sedang apa Dek?"
"Mau lihat pasien atas nama Dea Veronika Bu, apakah dirawat di kamar ini?"
"Oh iya Dek, tapi ini kamar isolasi. Tidak semua orang bisa masuk kedalamnya. Hanya dokter dan perawat tertentu yang boleh masuk. Adek mahasiswi Farmasi yaa?" tanya perawat sambil melihat papan nama aku yang tergantung di baju praktek putihku.
"Iya Bu, saya lagi praktek profesi apoteker bu."
"Oh gitu ya Dek, nanti saya coba tanyakan sama Dokter yang merawat Dea, apa bisa pasien ini dijadikan studi kasus karena pasien ini perlu perlakuan khusus", kalimat  Perawat ini menggantung membuat aku semakin penasaran dengan pasien yang satu ini.
"Terima kasih Bu, saya tunggu infonya."
Perawat itu berlalu kemudian tetap dengan berjinjit aku melihat kedalam ruang rawatan, sekilas terlihat tubuh kecil tergolek sendiri didalam ruang tersebut, selang infus ditangan kanannya, selang makanan (sonde) melewati hidung kecilnya. Keadaanya secara umum sangat memprihatinkan.
Kujalani hari hari praktek di rumah sakit dengan bersemangat. Sambil berharap semoga aku dapat izin untuk dapat studi kasus pemakaian obat Dea. Ternyata dokter mengizinkan aku untuk menganalisa kasus obat Dea. Alhamdulillah akhirnya izin keluar juga.
Masih sangat aku ingat ketika pertama kali aku memasuki kamar dimana Dea dirawat. Dengan ditemankan oleh perawat senior aku perlahan melangkahkan kaki kesana. Ya Allah, Allah Maha Besar, sekian banyak kulihat pasien dengan kondisi yang parah tapi entah kenapa melihat pasien yang satu ini hati aku bergidik ngeri, kasihan, sekaligus entah dari mana datangnya timbul saja rasa sayang kepada anak ini. Keadaannya siapapun yang melihat akan sedih, badannya yang sangat kurus hanya tinggal kulit pembalut tulang dengan tangan yang sangat kurus yang ditancapi jarum infus. Kulit tanganya ada yang melepuh dan ada biru biru mungkin sudah terlalu banyak jarum ditusukan disitu. Selang makanan melalui hidungnya, nafasnya satu satu dan kadang kala sesak. Dia lagi tertidur tapi subhanallah ketika dia terbangun membuka matanya aku melihat mata yang sangat cerah, hitam bola matanya memancarkan semangat hidup mata yang sangat indah dan sejak saat itu kuyakini pada gadis kecil itulah hatiku tertambat. Timbul saja rasa sayang yang tak terbendung.
"Dea, sudah bangun yaa, ini kakak dari obat obatan, namanya kak Rika. Nanti kakak ini yang akan menemani Dea, memberikan obat ya" kata perawat memperkenalkan diriku
Dea hanya mengangguk lemah sambil mata beningnya memandangku. Ku berikan senyum terindahku padanya.
Dea tidak bicara tapi matanya bicara banyak.
Setelah izin aku dapatkan aku semakin bebas mengunjungi Dea disela kesibukan menjalani praktek kerja ini. Ku pelajari semua riwayat penyakit Dea, aku berdiskusi dengan perawat dan dokter yang merawat Dea. Pertama kali aku terkejut karena hasil diagnosa dokter Dea menderita HIV/AIDS!!!. Bagaimana bisa Dea yang masih kecil dapat menderita penyakit tersebut. Penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Penyakit yang disebabkan oleh virus Human Imunodefisiensi Virus. Ternyata setelah ditelusuri Dea mendapatkan penyakit ini ketika dia berumur 3 tahun saat menderita demam kejang dan kadar trombositnya rendah Dea harus menerima transfusi darah. Ternyata darahnya tercemar. Bagaiaman bisaaa? Tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi Dea. Dia menanggung sakit bukan karena kesalahannya tapi karena faktor kesalahan manusia. Tapi sekali lagi ini memang takdir yang harus dijalaninya. Tapi pernakahkah kamu lihat Dea kecil mengutuki takdirnya. Tidak pernah !, dia menerima itu semua. Banyak hal-hal baik yang kita dapat dari ketabahan Dea menjalani hari hari panjangnya di Rumah Sakit. Dan bukan sekali ini Dea dirawat di Rumah Sakit, berkali-kali keluar masuk Rumah Sakit. Ketika diluar tubuh kecilnya dalam kondisi lemah, pertahanan tubuhnya lemah dan virus akan menguasai tubuhnya, Dea akan mengalami sakit, entah itu mencret-mencrer, demam tinggi, mimisan, bahkan sampai tidak sadarkan diri. Dan kemudian Dea akan masuk kembali ke rumah sakit dirawat lagi, selalu begitu berulang ulang sejak virus HIV menggerogoti tubuh mungilnya, menghancurkan sistem pertahanan tubuh. Semua biaya di gratiskan oleh pihak Rumah sakit sebagai wujud tanggung jawab rumah sakit. Hari berlalu kujalani praktek profesi ini dengan lebih bersemangat. Apalagi ada Dea makhluk mungil yang aku rasa dikirim Allah buatku. Melihat kondisinya menimbulkan rasa iba di hatiku. Tapi melihat kegigihannya melawan penyakit menumbuhkan pula kekuatan buatku menghadapi kehidupan ini. Dari Dea aku berkaca sepahit dan seberat apapun masalah hidup Dea tetap bersemangat. Seperti pada hari itu setelah mengikuti dokter visite mengunjungi pasien demi pasien aku masih mempunyai kesempatan mengunjungi Dea. Ku lakukan SOP bagaiman menghadapi pasien dengan penyakit AIDS. Dea sedang ditemani mamanya.
"Hai Dea, gimana kabarnya hari ini"
" Baik Kakak" mama Dea yang menjawab.
Kulihat bibir Dea bergetar seperti menyebut sesuatu dan berusaha tersenyum. Ah... anak kecil yang manis hatiku terenyuh tidak sepantasnya kamu menanggung penyakit yang tidak disebabkan oleh ulahmu.
"Tadi Dea sempat drop Rika, Ibu tadi sudah sempat cemas, tekanan darah dan denyut nadi Dea menurun drastis. Beruntung Dea masih bisa bertahan" terang Mama Dea kepadaku. Kulihat butir bening mengalir disudut matanya dan cepat disekanya.
Ya Allah tulus aku berdoa semoga Dea dipanjangkan juga umurnya oleh yang Maha Pemberi kehidupan. "Dea mau apa" tanyaku
Dea hanya menggeleng lemah. Kemarin waktu kondisi kesehatan Dea stabil aku sempat membawakan boneka buat Dea dan ketika menerimanya mata Dea berbinar cerah. Di atas mejanya ada beberapa hadiah dari relawan AIDS, tapi boneka hadiah dari kak Rika yang selalu menemani diatas tempat tidur Dea kata Mama Dea. Menemani hari hari Dea yang panjang dan serentetan upaya medis yang dijalani Dea. Semakin hari aku rasakan semakin dekat ikatan batinku sama Dea. Walaupun ada beberapa teman yang sama mengambil profesi agak takut takut mendekati kamar Dea, bahkan sekedar mengintip takut juga. Bagiku tidak ada ketakutan semacam itu. Karena selain prosedur menghadapi pasien AIDS sudah ada di RS ikatan batinku rasa sayangku mengalahkan rasa khawatirku. Dan bukankah penyakit AIDS hanya dapat ditularkan lewat jarum suntik, transfusi darah, cairan tubuh # lihat internet. Dan aku lebih hanya menyerahkan pasrah pada Allah.
Dea hari ini sangat cerah kondisinya relatif stabil, minum susu lewat sonde juga banyak dan cepat dihabiskannya. Senyum terukir diwajahnya, dan bola mata hitamnya bercahaya menumbuhkan semangat hidup yang kuat setelah sehari sebelumnya kondisi Dea drop.
"Dea sayang, besok kak Rika pulang kampung dulu, Senin kak Rika balik lagi kita ketemu lagi ya, Dea yang kuat ya, tunggu kak Rika balik lagi. Nanti kita cerita cerita lagi, bermain lagi ya" kataku sama Dea.
Aku berencana pulang kampung hari Minggu ini untuk kemudian masuk lagi Senin pagi. Ada keperluan yang tidak bisa ditunda dan lagipula aku sudah rindu dengan bunda ku di kampung.
"Belikan Dea baju" lemah bibir Dea bergetar. Aku sampai harus memiringkan kepala untuk dapat lebih jelas mendengar yang diucapkan Dea.
"Dea mau baju?" tegasku.
Tidak biasa biasanya Dea meminta padaku. Yang ada aku selalu menawarkan Dea mau apa dan selalu Dea menggeleng.
"Nggak usah Rika!" Kata Ibu Dea
"Dia nggak serius cuma ngomong aja itu."
"Biarlah Bu, Rika belikan toh cuma baju. Yang penting Dea sehat dan bisa memakai bajunya."
"Dea tunggu kak Rika balik hari Senin ya, Dea yang kuat yaa, anak pintar dan manis harus kuat biar cepat sehat"
Dea mengangguk aku berlalu dengan perasaan campur aduk antara sedih meninggalkan Dea dan senang mau ketemu Bunda.
*****

Senin pagi ku bergegas langkahku. Aku tidak sabar ingin ketemu Dea, tas plastij berisi baju merah muda motif frozen berada di tanganku ku pegang erat erat. Didalamnya berisi baju warna merah muda motif frozen pesanan Dea. Ah sedang mengapa anak kecil itu, bagaimana kondisinya? Dua hari kutinggalkan membuat aku rindu padanya, pada mata hitamnya, pada ketabahannya menjalani penyakitnya. Sampai di ruang penyakit dalam aku bergegas menuju ruang isolasi tempat Dea dirawat. Tapi aku terkejut! Spreinya rapi dan bersih dan tak kutemukan Dea disana. Aku semakin resah kemana Dea? Apakah pindah ruangan? Atau sudah pulang ke rumah? Setenga berlari aku menuju tempat perawat.
"Bu, Dea kemana? Apakah pindah ruangan? Atau Dea sudah pulang?"
Perawat saling berpandangan dab kemudian mengusap bahuku lebut berkata
"Kita sudah berusaha tapi keputusan Tuhan yang berlaku, Dea sudah berpulang hari Minggu menjelang magrib dan jenazahnya sudah dibawa pihak keluarga pulang buat dimakamkan, yang sabar ya Rika."
Ya Allah rasanya bumi berhenti berputar, air mata yang kutahan tahan dari tadi akhirnya luruh jua. Deaaaa... kenapa tidak menunggu kak Rika datang, kenapa kemaren pas pulang kampung kondisinya membaik, kalau memburuk pasti aku tidak akan pulang. Ku remas kantong plastik tempat baju pesanan Dea. Terbayang kata katanya Dea mau baju, terbayang bening matanya, terbayang senyumannya, terbayang wajah kesakitannya ketika sakitnya datang. Dea

 

Blogger news

Blogroll

About