Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 21 Desember 2016

Jika ini sebuah 'rasa'
Maka biarlah dia tetap ada
Biarpun tak berujung
Biarpun hanya mengingat rasa
Yang pernah ada diantara kita
Antara Aku Kamu

Sedihhh........
Ketika kita selalu berada di posisi ini
Kita selalu menghayalkan pertemuan ini
Untuk kemudian sama-sama menyesalinya
Melupakan semua ini
Hanya akan menambah ingatan tentang semuanya
Semakin berusaha melupakan
Semakin bayangannya menguat

Maka...
Jika ini sebuah 'rasa'
Biarlah dia tetap ada 💙
Sampai waktu nanti yang akan memutuskan
Apakah semakin memudar atau malah semakin menguat

Jakarta di suatu subuh ketika mata tak mau terlelap...

Minggu, 09 Oktober 2016

Kamu tau? Ini sangat berat bagiku. Aku tak bisa berfikir apa-apa lagi. Aku tertegun terdiam, apa ini? Sesuatu yang selama ini kamu dan aku khawatirkan terjadi. Aku hanya memandang keluar jendela. Deretan gedung-gedung angkuh seakan menertawai kebodohan kita. Angin seakan malas berhembus hanya berdesis lembut ketika kamu kembali memandangku.
"Apa yang harus kita lakukan?, kembali pertanyaan itu kamu ajukan. Dan kembali otak dan fikiranku seakan berhenti berputar. Aku menggeleng tidak ku peroleh jawaban. Otakku seakan berhenti berkerja. Ya apa yang harus aku lakukan? Setelah sekian lama pertanyaan itu selalu mengusik hati dan perasaanku. Hanya itu. Ternyata hanya kamu yang selalu mengusik hatiku. Perasaanku. Aku rindu pertemuan ini sekaligus aku benci ketika kita harus berpisah di bandara ini dan ini selalu berulang lagi dan berakhir dengan pertanyaan "apa yang harus kita lakukan?"
Aku menggeleng lemah, tidak tahu harus menjawab apa, untuk kemudian seperti biasa akan aku jawab lirih
"Biarlah waktu yang akan menjawabnya."
Kupandangi wajahmu dari sudut mataku. Perlahan aku melihat kerutan halus disudut matamu walaupun itu tidak mengurangi kecantikanmu. Ya kita semakin menua dengan segala kompleksitas masalah kita. Apakah kita akan bisa bertahan? Sampai kapan kita bertahan? Kita mampu ketika waktu pun rasanya menyusutkan diri terseok menghadapi takdir kita
"Aku selalu takut dan tidak suka mendengar jawabanmu seperti itu. Kita jalani saja dulu? Sampai kapan? Sampai kapan aku harus selalu merelakan kamu pergi, meninggalkan aku lagi dan lagi? Apa sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi?" Lelah suaramu meletupkan perasaan hatimu yang mungkin sudah berkurang kadar kesabarannya.
"Terus kita bisa apa?, apa yang bisa kita lakukan? Aku rasa sebaiknya kita memang tidak usah bertemu, bahkan pertemuan kita dulu yang mengawali hubungan ini. Aku juga capek, lelah menghadapi keadaan ini. Tapi kita bisa apa?" Suaramu lebih putus asa dari suaraku.
Kulirik pergelangan tanganku, jam selalu berjalan, berdetak seakan tidak peduli kita terseok mengukutinya
"Waktuku hampir habis aku harus kembali ke keluargaku. Suami dan anak-anakku menungguku" katamu pahit sepahit aku yang menelan ludahku yang terasa menyekat di tenggorokan.
Yaa selalu begitu, pertemuan perpisahan, kegembiraan kesedihan silih berganti. Kejar mengejar. Ya Tuhan ampunilah aku, demi mendengar kamu mengucapkan suami dan anak-anakku menungguku aku merasa tertampar, aku merasa kembali kepada kenyataan pahit bahwa kamu memang bukan milikku. Ada yang lebih berhak atas diri dan perasaan kamu. Suami dan anak- anakmu. Trus dimana posisi aku di matamu? Ku hembuskan nafas sekuat-kuatnya berharap rasa sakit ini ikut terbawa pergi. Harga diriku merasa terusik. Ada yang lebih berhak atas dirimu dan perasaanmu. Aku dimanaaaaaa? Aku malu aku tertohok. Sekian lama perasaan ini merajai aku ternyata harus dihadapi lagi oleh kenyataan ini.

Selasa, 26 April 2016

Surat terbuka untuk seseorang di masa lalu

Hai... lama terlewati masa-masa aku memiliki harapan.
Harapan bahwa kamu bisa kumiliki dan aku bisa kamu miliki, kita akan bisa hidup bahagia seperti kisah cinta Pangeran dan Putri kerajaan yang hidup berbahagia sampai akhir hayatnya. Tapi... itu semua hanya di negeri dongeng, negeri anta berantah dan setingan waktunya adalah pada zaman dahulu kala. Zaman sekarang? Inilah kita dengan segala rasa sesak dan rasa sesal di dada. Kembali mengurutkan kejadian tragis kisah cinta kita yang tak mungkin akan berbahagia sampai akhir hayat.
Hai... lama aku punya impian kamu bisa kumiliki dan aku bisa kamu miliki. Tapi kemudian kita sama-sama tersadar bahwa harapan tidak seindah impian, khayalan tidak seindah kenyataan. Ketika dengan amat sadar dan mengekang egoisme pribadi kita masing-masing. Ada hati yang harus kita jaga, ada tangan2 mungil, tatapan mata polos yang harus kita rasakan sakitnya ketika kita tetap mempertahakan ego kita.
Hai...tahukah kamu itu adalah hal yang amat sangat berat. Melupakan kamu dan semua rasa indah yang pernah ada sangatlah sulit. Tapi kita harus bisa, demi belahan jiwa dan hati mungil yang harus kita jaga. Bahkan kita juga harus menjaga hati mungil yang akan hadir dimuka bumi ini kalau ternyata tàkdirnya berkehendak dia terlahir dimuka bumi ini. Takdirnya menghendaki kita harus berpisah, berusaha melupakan semuanya.
Wahai makhluk Tuhan yang berada entah dimana, rencana program kehadiranmu sudah membuat harapanku luluh lantak. "Aku ingin punya anak, dan sekarang lagi ikut program bayi tabung, untuk itu aku harus berkonsentrasi, harus fokus dan yang lebih penting aku harusnya tidak membagi lagi cintaku, karena bagaimana isteriku bisa hamil kalau aku tidak menyanyanginya 100 persen. Kalau aku masih menyimpan nama dan hatimu dilubuk hatiku terdalam".
Hai seseorang dimasa lalu, aku sadar aku paham bahwa semua ini cepat atau lambat harus diakhiri. Selamat tinggal kenangan. Apapun itu semoga ini adalah yang terbaik buat kita semua, apapun itu dimanapun kamu berada Nak... kamu sudah membuat kami menjadi sadar walaupun untuk itu batin ini rasanya tercabik-cabik harus mengakhiri ini semua. Apapun itu, dimanapun kamu sudah menimbulkan kesadaran dihati kami bahwa semua yang kita lakukan salah dan harus dihentikan. Engkau membuat kami sadar bahwa walaupun hanya sekedar calon bayi tabung, kamu telah membuat kami menjadi pribadi yang kembali ke jalan yang benar. Bahkan jauh sebelum kehadiranmu Nak...

Kamis, 31 Maret 2016

Takdir getir

Ara termenung memandang cincin di jarinya. Sambil menghela nafas panjang Ara bergumam lirih... Ya Allah tidak kusangka akan begini jadinya. Tak pernah terbayangkan ini semua terjadi menimpanya.
Terbayang kembali kenangan lama kala bertemu pertama kali dengan Radit. Radit yang baik, Radit yang perhatian dan Radit yang telah mencuri hatinya. Tidak mudah bagi seorang Ara untuk jatuh cinta. Tapi kenapa kepada Radit hatinya langsung terpaut dan ketika Radit menyatakan rasa sukanya Ara seolah tak punya kuasa buat menolaknya.
Jarum jam serasa lambat bergerak. Waktu seakan tidak beranjak. Ara kembali menghela nafas panjang. Ruangan kamar tidurnya yang luas terasa semakin sesak, dua ekor cicak berkejaran di dinding kamarnya tak henti-henti tidak mengenal lelah seolah tidak memahami apa yang bergejolak didalam hati Ara. Semua kembali terbayang bagai tivi layar datar besar yang terpampang didepannya dan dia tidak bisa memalingkan wajah walau sejenak. Semua kembali tersaji utuh.
"Hai Ara... apa kabar?, long time no see" seruan khas riang Rindu temannya menyapa ketika Ara baru menginjakan kaki di kampus.
"Hai Ndu... baik, iya nih aku lagi sibuk sekarang. Biasalah mencari sesuap nasi hehehe" kekeh Ara.
"Udah kenal belum ada anak baru di kelas kita?", tanya Rindu
"Anak baru yang mana?, perasaan gak ada deh"
"Makanya lu rajin-rajin datang ke kampus biar dapat info terkini"
"Yang mana sih anaknya? Cowok apa Cewek?"
"Cowok dong! Pokoknya keren kamu harus lihat dan kenalan sama ni cowok. Walaupun kata teman-teman sih agak 'halus' gitu" kata Rindu lagi membuat penasaran
Kayak apa sih orang keren yang agak 'halus' itu batin Ara menduga duga. Ah.. Rindu selalu punya trik supaya orang penasaran. Walaupun penasaran Ara berusaha memendam rasa penasarannya. Karena dia tahu semakin Rindu ditanya semakin kita dibuat penasaran olehnya. Memang beberapa hari ini Ara tidak masuk kuliah berhubung ada kesibukan keluarga di rumah. Biar sajalah nanti akan ketahuan juga seperti apa yang dimaksud Rindu. Ketika kuliah Statistik berlangsung tiba-tiba ditengah perkuliahan masuklah seorang mahasiswa yang sangat keren menurut Ara. Mukanya yang putih mulus, tinggi semampai, alisnya yang hampir bertaut, hidungnya yang mancung,  perpaduan wajah yang sempurna didukung oleh sikap tubuh yang tegak. Jalannya yang lambat dan dengan rasa percaya diri yang tinggi mendatangi meja dosen
"Maaf Bu saya terlambat, karena tadi dijalan ada sedikit masalah" suaranya yang terkesan lembut meminta maaf ke dosen atas keterlambatannya.
"Ya sudah kamu duduk saja dulu, keterlambatan kamu ini, bagaimana pun sebenarnya menganggu kuliah saya" balas dosen yang terkenal killer. Tapi mungkin demi melihat keelokan rupa mahasiswanya ini sang dosen tidak berpanjang-panjang lagi dan melanjutkan kembali kuliahnya. Rindu cepat cepat menggeser duduknya berharap si cowok yang terlambat tadi menduduki bangku yang kosong di sebelahnya. Tapi apa dinyana ternyata sang cowok keren hanya berjalan melewati bangku Rindu langsung ke belakang tetap dengan gaya khasnya. Duduk tepat disamping Ara diiringi dengan wajah cemberut Rindu. Oh ternyata ini makhluk keren yang diceritakan Rindu itu, hmm boleh jugalah. Tapi untuk ukuran seorang cowok memang kelihatan lebih kalem lebih lembut, lebih sopan, dan lebih 'halus' sesuai versi bahasa Rindu. Radit yang kemudian disepanjang perkuliahan hanya menatap wajah Ara setelah perkenalan mereka, Radit yang lembut dan memperlakukan Ara dengan amat baik. Yang selalu hadir ketika Ara butuh, yang tidak pernah marah, tidak pernah berkata kasar, selalu berkata dengan lembut walaupun kadang kala kelembutan Radit membuat Ara bertanya apakah semua cowok seperti Radit?
Hingga akhirnya Ara yang selama ini terkenal sebagai gunung es di kampusnya bisa di 'lunakan' hatinya oleh Radit. Radit datang dengan segala pesonanya, dengan segala pengertiannya, dengan segala kelembutannya yang membuat Ara semakin tidak bisa menghindari pesonanya. Hingga di hati Radit, Ara berlabuh, Ara dan Radit semakin dekat, semua sikap Radit membuat Ara semakin mencintai Radit. Semakin menyayangi Radit. Waktu berjalan dengan cepatnya, semakin hari Ara semakin menyayangi Radit, hanya Radit yang bisa memahami Ara dengan segala kelembutannya. Maka ketika Radit menyatakan ingin melamar Ara dan mengadakan ikatan pertunangan dengan senang hati diterima Ara.
Jarum jam berdentang 12 kali, malam semakin larut dan Ara juga semakin larut dengan kenangannya. Tiba2 ada rasa sakit yang teramat sangat, terasa menghujam di hulu hatinya. Sedih sekaligus membuat berdenyut jantung yang tidak normal. Ara menikmati sakit ini sampai tidak ada lagi rasa sakit dihatinya. Semua hilang musnah bersama hilangnya Radit setelah acara pertunangan itu. Radit yang tidak bisa ditemui Ara di kampus, di kostnya di tempat biasa kumpul sama teman-temannya. Radit bak  ditelan bumi dan itu membuat Ara merana, mempertanyakan semuanya tanpa dapat apa jawabnya. Pedih dan ngilu karena tidak bisa menemukan keberadaan Radit. Apakah ini takdirku, kemana engkau belahan jiwaku batin Ara nelangsa. Tapi akhirnya semua harus dan wajib diakhiri ketika dengan tidak sengaja Ara mendapat info dari sepupu Radit bagaimana masa lalu Radit. Radit yang dibilang Rindu sangat 'halus' untuk seorang cowok ternyata punya masa lalu yang siapapun pasti akan terkejut. Ternyata Radit dulunya seorang perempuan!!!, Haaaaaa?... dan yang lebih terkejut tentu Ara orang yang selama ini dekat dengan Radit. Berulangkali Ara menanyakan sama sepupu Radit dari mulai suara lemah sampai suara menyentak nyaring apa sebenarnya? Kenapa!
Ternyata Radit memang dilahirkan sebagai seorang wanita dengan nama aslinya Radita dan ketika anak anak sudah menyadari ada yang tidak normal di tubuhnya. Radit kecil lebih suka maia boneka daripada main bola. Radit kecil lebih kalem, lebih manis dan lebih halus daripada teman sabayanya. Ya Allah.... kelu dan tak bisa berkata kata Ara, mulutnya seakan tersumpal di kerongkongannya serasa ada segenggam pasir dan  membuat  sesak nafas Ara, perutnya mual, pingin muntah tapi tak ada yang mau di keluarkan. Pengakuan sepupu Radit betul- betul membuat perasaan Ara terluka. Bagaikan di sambar petir disiang bolong, wajah kelabu Ara dan linangan air mata tak dapat disembunyikan ketika sepupu Radit bercerita bahwa Radit pun sebenarnya merasa tersiksa merasa berdosa mengingat masa lalunya. Tapi masa lalu tetaplah masa lalu, sepahit apapun itu tidak akan bisa dihapus. Karena tidak bisa menghilangkan rasa bersalahnya kepada Ara sehingga Radit menghilang karena Radit tidak bisa menghadapi masa depan bersama Ara. Bayangan masa lalu selalu menghantuinya. Ahhhh...... sungguh rumit yang terjadi pada kisah asmara Ara dan Radit. Bagaimana mungkin... sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat. Sesuatu yang dulu pernah sesekali mengusik hati Ara tentang Radit ternyata terbukti sudah. Sesuatu yang selalu berusaha dibantahnya. Tapi takdir tetaplah takdir dia tidak berfikir apakah kita menerima atau tidak. Tiba tiba Ara merasa lelah yang teramat sangat. Pingin merebahkan diri melepaskan penat dibadan dan hatinya ternyata cuma hanya segini perjalanan cintanya berakhir tragis.

Jumat, 04 Maret 2016

Renjana terbelenggu

Kutanyakan lagi hatimu
Masihkah ada aku disana
Rindu seperti langit jingga
Kuluahkan cerita usang itu

Aku ingin mencintaimu
Tanpa suara tanpa gaduh
Aku ingin pekikan pada dunia
Aku mencintaimu

Derita terpendam dalam mimpi bisu
Cerita romansa hanya impian
Menemukan kamu dikeping keabadian
Tanpa sanggup bersuarakan cinta

Selasa, 01 Maret 2016

Berdamai Dengan Kenyataan (2)

Aku dan kamu bagaikan dua keping rindu yang tak pernah bertemu. Aku tahu kamu adalah muara kasih sayangku, curahan cintaku. Tapi aku dan kamu terhalang tembok yang tinggi untuk meluahkan rindu. Rindu tidak lagi menjadi penyejuk hati, rindu menjelma menjadi hal hal yang tak ku mengerti.
Aku dan kamu menyimpan keping rindu yang dalam disudut hati terdalam. Hingga tak satupun selain kita dapat menjenguknya. Kubenamkan keping rindu, berharap hilang tak bersisa. Tapi selalu ada dan kembali menyapa.

Senin, 29 Februari 2016

Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS)

Siang yang terik ketika aku harus menjemput bungsuku di Sekolah. Matahari bersinar sangat jumawa, memuntahkan sinar terbaiknya. Membuat siapapun yang berjalan disiang ini akan mengernyitkan kening, menyipitkan mata karena gerah dan silau akan panasnya. Angin seolah berhenti berhembus diam dan tidak bergerak menambah siang yang terik ini.
Dipanas terik inilah aku menjemput bungsuku, AC mobil ku setel menjadi yang paling tinggi. Sesampai di sekolah ternyata anakku belum pulang ada tambahan kegiatan Rohis. Iseng-iseng aku berjalan ke pekarangan sekolah. Biasanya aku cuma di mobil tapi kali ini aku berniat menunggu anakku pulang di pekarangan sekolahnya. Menjelang pekarangan di depan pagar sekolah sudah berjejer penjual makanan kaki lima. Masya Allah segala ada. Bau bakso bakar langsung menyengat hidungku ketika aku melintas. Aku perhatikan abang penjual bakso bakar itu. Penampilannya cukup bersih, dengan gerobak bakso yang juga bersih, tetapi apa yang dijualnya? Adakah jaminan bakso yang dijualnya tidak mengandung Boraks? Adakah yang menjamin saos yang digunakannya tidak mengandung pengawet yang melebihi batas keamanan yang diperbolehkan? Adakah yang menjamin MSG (Mono Sodium Glutamat) yang digunakan sudah sesuai takaran ataukah belum? Jangan- jangan mereka memasukan seenak perutnya sendiri, suka suka tanpa batasan yang penting semakin banyak penyedap semakin enak rasanya. Apakah saos, sambal yang digunakan abang abang penjual bakso ini sudah terdaftar di Badan POM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Badan yang mempunyai otoritas tentanf keamanan pangan, obat dan lain2?. Aku bergidik ngeri.

Sabtu, 20 Februari 2016

Surga Buat Dea

Pelataran rumah sakit masih sepi. Aku berjalan bergegas. Ruang penyakit dalam masih jauh didepan. Aku sangat ingin bertemu Dea pasien kecilku. Perkenalan pertamaku dengan Dea berlangsung dramatis.
Sebagai mahasiswa Profesi Apoteker yang sedang menjalani masa Praktek Kerja Profesi Apoteker di Rumah Sakit Umum Daerah aku ditugaskan oleh pembimbing untuk menganalisa obat obat apa yang diberikan kepada pasien. Kami para mahasiswa harus mencari efek samping, dosis, sinergis obat dan lain sebagainya berdasarkan Medical Record pasien. Dan kemudian mendiskusikan kasus pasien dengan Dokter dan para Apoteker di rumah sakit tersebut. Tentu semua berhubungan dengan obat obatan.
Ketika membaca medical record yang sering disebut status pasien aku tertarik dengan buku status pasien dengan nama Dea Veronika. Rasanya aku belum pernah melihat status pasien itu. Kubaca nama pasien Dea Veronika umur 10 tahun yang mana yaa pasiennya batinku. Ku telusuri riwayat masuk rumah sakitnya. Kubaca obat obat yang diberikan dokter. Kebanyakan obat-obat golongan steroid. Ada apa ini? Anak sekecil ini diberi obat steroid? Kubaca lagi anamnesanya, perlahan ku runut kejadiannya. Ya Allah benerkah anamnesa ini? Dimana anak ini sekarang berada? Karena penasaran waktu itu aku susuri semua ruang perawatan penyakit dalam. Ku lalui kamar rawatan demi kamar rawatan. Tapi tetap tidak aku temukan pasien anak bernama Dea. Sampai di ruangan paling ujung dengan berjinjit aku coba mengintip dari jendelanya. Sedang asik mengintip tiba- tiba aku ditegur oleh perawat.
"Sedang apa Dek?"
"Mau lihat pasien atas nama Dea Veronika Bu, apakah dirawat di kamar ini?"
"Oh iya Dek, tapi ini kamar isolasi. Tidak semua orang bisa masuk kedalamnya. Hanya dokter dan perawat tertentu yang boleh masuk. Adek mahasiswi Farmasi yaa?" tanya perawat sambil melihat papan nama aku yang tergantung di baju praktek putihku.
"Iya Bu, saya lagi praktek profesi apoteker bu."
"Oh gitu ya Dek, nanti saya coba tanyakan sama Dokter yang merawat Dea, apa bisa pasien ini dijadikan studi kasus karena pasien ini perlu perlakuan khusus", kalimat  Perawat ini menggantung membuat aku semakin penasaran dengan pasien yang satu ini.
"Terima kasih Bu, saya tunggu infonya."
Perawat itu berlalu kemudian tetap dengan berjinjit aku melihat kedalam ruang rawatan, sekilas terlihat tubuh kecil tergolek sendiri didalam ruang tersebut, selang infus ditangan kanannya, selang makanan (sonde) melewati hidung kecilnya. Keadaanya secara umum sangat memprihatinkan.
Kujalani hari hari praktek di rumah sakit dengan bersemangat. Sambil berharap semoga aku dapat izin untuk dapat studi kasus pemakaian obat Dea. Ternyata dokter mengizinkan aku untuk menganalisa kasus obat Dea. Alhamdulillah akhirnya izin keluar juga.
Masih sangat aku ingat ketika pertama kali aku memasuki kamar dimana Dea dirawat. Dengan ditemankan oleh perawat senior aku perlahan melangkahkan kaki kesana. Ya Allah, Allah Maha Besar, sekian banyak kulihat pasien dengan kondisi yang parah tapi entah kenapa melihat pasien yang satu ini hati aku bergidik ngeri, kasihan, sekaligus entah dari mana datangnya timbul saja rasa sayang kepada anak ini. Keadaannya siapapun yang melihat akan sedih, badannya yang sangat kurus hanya tinggal kulit pembalut tulang dengan tangan yang sangat kurus yang ditancapi jarum infus. Kulit tanganya ada yang melepuh dan ada biru biru mungkin sudah terlalu banyak jarum ditusukan disitu. Selang makanan melalui hidungnya, nafasnya satu satu dan kadang kala sesak. Dia lagi tertidur tapi subhanallah ketika dia terbangun membuka matanya aku melihat mata yang sangat cerah, hitam bola matanya memancarkan semangat hidup mata yang sangat indah dan sejak saat itu kuyakini pada gadis kecil itulah hatiku tertambat. Timbul saja rasa sayang yang tak terbendung.
"Dea, sudah bangun yaa, ini kakak dari obat obatan, namanya kak Rika. Nanti kakak ini yang akan menemani Dea, memberikan obat ya" kata perawat memperkenalkan diriku
Dea hanya mengangguk lemah sambil mata beningnya memandangku. Ku berikan senyum terindahku padanya.
Dea tidak bicara tapi matanya bicara banyak.
Setelah izin aku dapatkan aku semakin bebas mengunjungi Dea disela kesibukan menjalani praktek kerja ini. Ku pelajari semua riwayat penyakit Dea, aku berdiskusi dengan perawat dan dokter yang merawat Dea. Pertama kali aku terkejut karena hasil diagnosa dokter Dea menderita HIV/AIDS!!!. Bagaimana bisa Dea yang masih kecil dapat menderita penyakit tersebut. Penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Penyakit yang disebabkan oleh virus Human Imunodefisiensi Virus. Ternyata setelah ditelusuri Dea mendapatkan penyakit ini ketika dia berumur 3 tahun saat menderita demam kejang dan kadar trombositnya rendah Dea harus menerima transfusi darah. Ternyata darahnya tercemar. Bagaiaman bisaaa? Tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi Dea. Dia menanggung sakit bukan karena kesalahannya tapi karena faktor kesalahan manusia. Tapi sekali lagi ini memang takdir yang harus dijalaninya. Tapi pernakahkah kamu lihat Dea kecil mengutuki takdirnya. Tidak pernah !, dia menerima itu semua. Banyak hal-hal baik yang kita dapat dari ketabahan Dea menjalani hari hari panjangnya di Rumah Sakit. Dan bukan sekali ini Dea dirawat di Rumah Sakit, berkali-kali keluar masuk Rumah Sakit. Ketika diluar tubuh kecilnya dalam kondisi lemah, pertahanan tubuhnya lemah dan virus akan menguasai tubuhnya, Dea akan mengalami sakit, entah itu mencret-mencrer, demam tinggi, mimisan, bahkan sampai tidak sadarkan diri. Dan kemudian Dea akan masuk kembali ke rumah sakit dirawat lagi, selalu begitu berulang ulang sejak virus HIV menggerogoti tubuh mungilnya, menghancurkan sistem pertahanan tubuh. Semua biaya di gratiskan oleh pihak Rumah sakit sebagai wujud tanggung jawab rumah sakit. Hari berlalu kujalani praktek profesi ini dengan lebih bersemangat. Apalagi ada Dea makhluk mungil yang aku rasa dikirim Allah buatku. Melihat kondisinya menimbulkan rasa iba di hatiku. Tapi melihat kegigihannya melawan penyakit menumbuhkan pula kekuatan buatku menghadapi kehidupan ini. Dari Dea aku berkaca sepahit dan seberat apapun masalah hidup Dea tetap bersemangat. Seperti pada hari itu setelah mengikuti dokter visite mengunjungi pasien demi pasien aku masih mempunyai kesempatan mengunjungi Dea. Ku lakukan SOP bagaiman menghadapi pasien dengan penyakit AIDS. Dea sedang ditemani mamanya.
"Hai Dea, gimana kabarnya hari ini"
" Baik Kakak" mama Dea yang menjawab.
Kulihat bibir Dea bergetar seperti menyebut sesuatu dan berusaha tersenyum. Ah... anak kecil yang manis hatiku terenyuh tidak sepantasnya kamu menanggung penyakit yang tidak disebabkan oleh ulahmu.
"Tadi Dea sempat drop Rika, Ibu tadi sudah sempat cemas, tekanan darah dan denyut nadi Dea menurun drastis. Beruntung Dea masih bisa bertahan" terang Mama Dea kepadaku. Kulihat butir bening mengalir disudut matanya dan cepat disekanya.
Ya Allah tulus aku berdoa semoga Dea dipanjangkan juga umurnya oleh yang Maha Pemberi kehidupan. "Dea mau apa" tanyaku
Dea hanya menggeleng lemah. Kemarin waktu kondisi kesehatan Dea stabil aku sempat membawakan boneka buat Dea dan ketika menerimanya mata Dea berbinar cerah. Di atas mejanya ada beberapa hadiah dari relawan AIDS, tapi boneka hadiah dari kak Rika yang selalu menemani diatas tempat tidur Dea kata Mama Dea. Menemani hari hari Dea yang panjang dan serentetan upaya medis yang dijalani Dea. Semakin hari aku rasakan semakin dekat ikatan batinku sama Dea. Walaupun ada beberapa teman yang sama mengambil profesi agak takut takut mendekati kamar Dea, bahkan sekedar mengintip takut juga. Bagiku tidak ada ketakutan semacam itu. Karena selain prosedur menghadapi pasien AIDS sudah ada di RS ikatan batinku rasa sayangku mengalahkan rasa khawatirku. Dan bukankah penyakit AIDS hanya dapat ditularkan lewat jarum suntik, transfusi darah, cairan tubuh # lihat internet. Dan aku lebih hanya menyerahkan pasrah pada Allah.
Dea hari ini sangat cerah kondisinya relatif stabil, minum susu lewat sonde juga banyak dan cepat dihabiskannya. Senyum terukir diwajahnya, dan bola mata hitamnya bercahaya menumbuhkan semangat hidup yang kuat setelah sehari sebelumnya kondisi Dea drop.
"Dea sayang, besok kak Rika pulang kampung dulu, Senin kak Rika balik lagi kita ketemu lagi ya, Dea yang kuat ya, tunggu kak Rika balik lagi. Nanti kita cerita cerita lagi, bermain lagi ya" kataku sama Dea.
Aku berencana pulang kampung hari Minggu ini untuk kemudian masuk lagi Senin pagi. Ada keperluan yang tidak bisa ditunda dan lagipula aku sudah rindu dengan bunda ku di kampung.
"Belikan Dea baju" lemah bibir Dea bergetar. Aku sampai harus memiringkan kepala untuk dapat lebih jelas mendengar yang diucapkan Dea.
"Dea mau baju?" tegasku.
Tidak biasa biasanya Dea meminta padaku. Yang ada aku selalu menawarkan Dea mau apa dan selalu Dea menggeleng.
"Nggak usah Rika!" Kata Ibu Dea
"Dia nggak serius cuma ngomong aja itu."
"Biarlah Bu, Rika belikan toh cuma baju. Yang penting Dea sehat dan bisa memakai bajunya."
"Dea tunggu kak Rika balik hari Senin ya, Dea yang kuat yaa, anak pintar dan manis harus kuat biar cepat sehat"
Dea mengangguk aku berlalu dengan perasaan campur aduk antara sedih meninggalkan Dea dan senang mau ketemu Bunda.
*****

Senin pagi ku bergegas langkahku. Aku tidak sabar ingin ketemu Dea, tas plastij berisi baju merah muda motif frozen berada di tanganku ku pegang erat erat. Didalamnya berisi baju warna merah muda motif frozen pesanan Dea. Ah sedang mengapa anak kecil itu, bagaimana kondisinya? Dua hari kutinggalkan membuat aku rindu padanya, pada mata hitamnya, pada ketabahannya menjalani penyakitnya. Sampai di ruang penyakit dalam aku bergegas menuju ruang isolasi tempat Dea dirawat. Tapi aku terkejut! Spreinya rapi dan bersih dan tak kutemukan Dea disana. Aku semakin resah kemana Dea? Apakah pindah ruangan? Atau sudah pulang ke rumah? Setenga berlari aku menuju tempat perawat.
"Bu, Dea kemana? Apakah pindah ruangan? Atau Dea sudah pulang?"
Perawat saling berpandangan dab kemudian mengusap bahuku lebut berkata
"Kita sudah berusaha tapi keputusan Tuhan yang berlaku, Dea sudah berpulang hari Minggu menjelang magrib dan jenazahnya sudah dibawa pihak keluarga pulang buat dimakamkan, yang sabar ya Rika."
Ya Allah rasanya bumi berhenti berputar, air mata yang kutahan tahan dari tadi akhirnya luruh jua. Deaaaa... kenapa tidak menunggu kak Rika datang, kenapa kemaren pas pulang kampung kondisinya membaik, kalau memburuk pasti aku tidak akan pulang. Ku remas kantong plastik tempat baju pesanan Dea. Terbayang kata katanya Dea mau baju, terbayang bening matanya, terbayang senyumannya, terbayang wajah kesakitannya ketika sakitnya datang. Dea

Kamis, 28 Januari 2016

Kekuatan Cinta...

Aku mengenalnya sebagai Uni Rus, perempuan paruh baya berusia 45 tahun. Perawakannya sedang dengan wajah manis tapi selalu kelihatan sedih. Entah apa yang membuat wajah manisnya selalu kelihatan sedih, ekspresinya datar. Entah memang karena bawaannya atau karena peristiwa hidup yang dialaminya.
Aku selalu tidak bisa menerima kenyataan ketika bercerita dengan ibu ibu yang menceritakan kemelut rumah tangganya . Begitu juga dengan Uni Rus, kemaren dengan berurai air mata dia menceritakan pengkhiatan suaminya. Ah... lelaki terbuat dari apakah hatimu sehingga tega membuat wanita sebaik Uni Rus berkali kali mengeluarkan air mata, kadang kala menangis kadang kala suaranya geram dan kadang kala marah tak terkontrol
Bagaimana tidak? Suami yang selama ini dibangga banggakannya sungguh teganya membuatnya kecewa yang teramat sangat bahkan sampai hampir hilang kepercayaan.
Menurut cerita Uni Rus kisah ini bermula dari pertemuan Uni Rus dan suami disuatu pesta pernikahan. Dimana yang menjadi pagar ayunya ternyata adik dari teman sekolah suaminya. Singkat cerita didapatlah kontak person sang kakak yang notabene adalah teman sekolah suaminya.
"Bagaimana mungkin Ari pertemuan di pesta itu menjadi pembuka kisah lama mereka."
"Setelah suamiku dapatkan nomor handpone nya mulailah mereka berkomunikasi menyambung tali silaturahmi. Bagi Uni tidak maasalah, yang akhirnya jadi masalah ketika komunikasi mereka semakin sering dan dilakukan diam diam di belakang Uni, Uni merasa ditipu." Cerita Uni kesekian kalinya dengan mata bengkak.
"Ah mungkin saja mereka berteman Uni dan lagipula mereka kan sekampung."kataku menenangkan Uni.
Ya bisa jadi batin Uni. Tapi tetap kulihat nada dan raut wajah yang tidak bisa menerima. Lagipula sang suami selama ini adalah sosok suami idaman wanita. Walaupun umurnya lebih muda dari Uni dia sangat menyayangi Uni, dan selau berbuat amat sangat baik terhadap Uni di sepanjang 18 tahun pernikahan mereka. Rumah tangga mereka pun sudah dihiasi sepasang anak anak yang menjadi penyejuk mata orang tuanya dan sudah beranjak dewasa. Mereka juga tidak dijodohkan, kisah kasih mereka bahkan bermula di bangku SMP saat mereka masih sangat remaja dan pada cinta pertama itulah hati mereka terpaut. Sang suami selalu  dan bersedia membantu kerepotan kerepotan istrinya. Bahkan pasangan ini sering dijadikan tempat bertanya pasangan pasangan muda yang bermasalah. Mereka jadi panutan. Tidak mungkin suami Uni Rus akan berbuat macam macam, lagipula si perempuan yang sering menelpon yang teman lama suami Uni Rus juga jauh tidak satu kota dengan kami batinku menenangkan.
Tapi semua menjadi terbantahkan ketika Uni Rus dengan mata sembab menceritakan kisah pilunya. Bagaimana mungkin suami yang selama ini dibangga banggakanya dihormatinya dicukupkan segala keperluanya, dilayani dengan sebaik baiknya sungguh teganya bermain api dibelakangnya. Berawal dari naluri seorang istri, yang merasa aneh dengan sikap suaminya. Akhirnya di Line suaminya Uni Rus menemukan kiriman kiriman lagu romatis, ada apa ini, perasaan mulai tak enak. Kembali terbayang tiga bulan belakangan ini sejak pertemuan dipesta itu sejak mendapatkan nomor handphone nya suaminya sangat bergairah. Selalu memutar lagu lagu romantis di mobilnya. Selalu ceria dan tiba tiba banyak omong.
Wanita yang tiga bulan belakangan ini kerap mengisi hari hari suaminya, teman lama, teman sekampung ternyata bisa merubah suaminya yang sangat disayanginya. Wanita itu adalah bagian dari masa lalu suaminya, tetapi bisa merenggut masa depanya.
"Coba bayangkan Ari, dia mengirimkan lagu lagu romantis, setiap ada kesempatan menelpon suamiku. Dan lebih parahnya suamiku mendengarkan curhatannya. Perempuan yang suami nggak beres juga. Kenapa juga harus bercurhat dengan suami orang. Dia kan juga punya suami, ceritalah sama suaminya. Jangan sama suami orang. Dan ternyata edisi curhat itu bukanlah klimaks dari rentetan kejadian. Uni Rus terluka ketika pengakuan suami tercintanya dengan menjujung alquran bercerita bukan hanya telepon2, kiriman lagu lagu mesra nan romantis di Line tapi mereka sudah ketemuan, ya Allah dan itu tidak hanya sekali, tiga kali ! Dan semuanya dilakukan diam diam di belakang Uni Rus di kota yang sama dengang Uni Rus. Bagaimana bisa? Dimana perasaan sang suami yang sementara disetiap waktu menelpon Uni Rus menanyakan makan, sholat kegiatan kantor dan segala tetek bengeknya teganya diwaktu yang sama ketemuan denga wanita masa lalunya. Dan itu dilakukan di dalam jam kantor ketika Uni Rus sedang bekerja. Uni Rus terluka matanya basah, hatinya basah kecewa yang sangat dirasakannya. Wanita masa lalu suaminya itu datang ke kota kami dengan alasan melihat ibunya sakit dan kebetulan ibunya satu kota dengan Uni Rus.
"Sudah sampai sejauh mana?" tanya Uni datar. Sang suami tercinta menangis.
"Tidak ada apa-apa, hanya pertemuan biasa saja."
"Tidak ada apa-apa kenapa ketemunya sampai tiga kali. Ayah telah menghancurkan hati Ibu. Kepercayaan yang Ibu berikan pada Ayah sudah disalahgunakan, Ibu tidak sangka Ayah akan tega berbuat begitu."
Suami yang sangat dikasihinya yang menjadi panutan teman teman dan saudara bisa berbuat seperti itu dibelakangnya. Suami yang selalu dihormatinya dilayani Uni dengan sepenuh hati. Terbayang awal awal pernikahan mereka, ketika awal menikah sang suami belum mempunyai pekerjaan tetap, masih mencari cari pekerjaan yang pasti tapi Uni dengan keyakinan hati bersedia menerima lamaran suami, masa masa awal pernikahan yang sulit bisa mereka lalui kenapa sekarang ketika keadaan ekonomi relatif stabil terjadi ini? Uni masih tidak bisa menerima kenyataan suaminya menerima curhat curhatan dari wanita lain bahkan sampai bertemu. Wanita itu juga tidak mempunyai perasaan dan hati nurani. Bagaimana dia bisa menghubungi suami orang yang juga seorang bapak dari anak anaknya, mengirimi pesan pesan singkat yang berisikan curhatan kehidupannya, mengirimkan lagu romantis yang mengingatkan akan kenangan lama, bahkan sampai ketemu dan sang suami meladeninya.
"Ayah cuma kasihan melihat kehidupannya sekarang. Dia diperlakukan dengan tidak baik oleh suaminya. Karena dia tidak mempunyai anak, maka suaminya menikah lagi dan dia tidak mengetahuinya sampai akhirnya baru tahu suaminya menikah ketika anak dari istri muda suaminya sudah berusia 5 tahun, dia ditipu mentah2 oleh suaminya. Itu yang sering di ceritakannya sama Ayah."
"Tidak perlu Ayah menerima curhatan2 istri orang!. Buat apa? Itu urusan dia, kalo dia mau curhat dia bisa curhat sama sesama perempuan, sama keluarganya, Ayah bukan psikolog, bukan konsultan perkawinan. Jangan karena ingin menolong rumah tangga orang rumah tangga kita berantakan. Sekarang Ibu ingin tahu, sudah sampai sejauh mana hubungan Ayah denga perempuan itu?"
"Ibu rela kalau harus mundur kalau memang Ayah harus memilih perempuan itu di banding Ibu"
Dan ini kutentang habis habisan, "Jangan Uni kenapa pula harus Uni yang mundur, tidakkah Uni sayang dengan pernikahan Uni yang sekian lama, bisakah Uni menjalani kehidupan kedepan seperti apa. Oke lah kalau Uni bisa secara finansial Uni mampu, tapi bagaimana dengan anak anak Uni?" Uni termenung. Perempuan paruh baya yang manis itu dengan perlahan mengusap air matanya.
"Tapi Uni saki hati, Uni nggak menyangka perkawinan Uni akan jadi seperti ini"
"Perempuan itu yang tidak benar Uni, contohnya saja di kehidupan pernikahan dia, suaminya sendiri bisa meninggalkan dia, dia juga tidak punya malu tidak punya harga diri menggubung hubungi suami orang, menceritaka aib rumah tangganya. Jangan mundur Uni, apalagi gara gara perempuan tidak berharga itu, Uni jauh lebih dari perempuan itu, dari segala galanya", kataku menguatkan Uni.

 

Blogger news

Blogroll

About